Presiden Kuba Siapkan ‘Perlawanan Tak Tergoyahkan’ Terhadap Ancaman Trump di Tengah Krisis Listrik


Penulis:  Thalatie K Yani - 19 March 2026, 04:15 WIB
Media Sosial X

KETEGANGAN diplomatik antara Kuba dan Amerika Serikat (AS) mencapai titik didih. Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, memberikan peringatan keras bahwa setiap upaya AS untuk mengambil alih kendali atas pulau tersebut akan dihadapi dengan "perlawanan yang tak tergoyahkan."

Pernyataan menantang ini disampaikan Díaz-Canel melalui unggahan di platform X pada Selasa (17/3/2026), di tengah upaya negara tersebut memulihkan jaringan listrik nasional yang baru saja runtuh secara total. Ia menuduh Washington menggunakan pelemahan ekonomi sebagai "alasan keterlaluan" untuk menguasai Kuba.

"Hanya dengan cara inilah perang ekonomi yang sengit dapat dijelaskan, yang diterapkan sebagai hukuman kolektif terhadap seluruh rakyat," tegas Díaz-Canel. "Dalam menghadapi skenario terburuk, Kuba disertai dengan sebuah kepastian: penyerang eksternal mana pun akan berbenturan dengan perlawanan yang tak tergoyahkan."

Sinyal Keras dari Gedung Putih

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump terus melontarkan ancaman terhadap kepemimpinan komunis Kuba. Setelah menyatakan dapat melakukan apa pun yang ia inginkan terhadap pulau itu, Trump memberi sinyal kuat pada Selasa: "Kami akan melakukan sesuatu dengan Kuba segera."

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mempertegas posisi Washington dari Ruang Oval. Menurutnya, Kuba membutuhkan kepemimpinan baru karena pemerintahan saat ini gagal mengatasi krisis ekonomi yang parah.

"Ekonomi mereka tidak berjalan... Mereka dalam banyak masalah, dan orang-orang yang berkuasa tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya, jadi mereka harus menempatkan orang-orang baru untuk berkuasa," ujar Rubio.

Kuba di Ambang Kegelapan

Kondisi di lapangan semakin memprihatinkan sejak AS memblokir pasokan minyak ke Kuba awal tahun ini. Hal tersebut melumpuhkan jaringan listrik tua yang menjadi tumpuan 10 juta penduduk. Senin lalu, pemadaman total memaksa warga memasak menggunakan gas dengan bantuan senter dan lilin. Jam sekolah dipersingkat, acara olahraga ditunda, hingga sampah menumpuk karena truk pengangkut kekurangan bahan bakar.

Hingga Selasa sore, listrik baru pulih sekitar 55% di ibu kota Havana serta beberapa wilayah barat dan tengah. Di tengah kegelapan dan ancaman invasi, warga Kuba didera kecemasan luar biasa.

"Kami, sebagai rakyat, sebagai warga sipil, tidak siap untuk perang," kata Marianela Alvarez, seorang warga Havana kepada Reuters. "Saya ingin Trump mengerti, tinggalkan kami sendiri."

Meskipun situasi memanas, Díaz-Canel mengonfirmasi bahwa pejabat Kuba telah mengadakan pembicaraan dengan pihak AS untuk "mengidentifikasi masalah bilateral yang memerlukan solusi." Namun, sentimen di akar rumput tetap terbelah antara harapan akan dialog dan ketidakpercayaan mendalam terhadap kebijakan luar negeri Washington. (CNN/Z-2)