Trump Klaim AS tidak Butuh NATO dan Jepang Amankan Selat Hormuz
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan menegaskan bahwa militer AS tidak lagi memerlukan bantuan dari Jepang, NATO, maupun sekutu lain untuk mengamankan Selat Hormuz. Pernyataan ini menandai babak baru isolasionisme AS di tengah krisis energi global 2026.
Klaim ini disampaikan Trump pada Selasa (17/3/2026), hanya beberapa hari setelah ia secara terbuka meminta bantuan internasional untuk menjaga jalur pelayaran yang menjadi jalur bagi 20 persen pasokan minyak dunia tersebut.
"Kita Tidak Pernah Membutuhkan Mereka"
Melalui platform media sosial pribadinya, Trump mengekspresikan kekesalannya terhadap sekutu-sekutu tradisional AS yang dianggap lamban dalam merespons permintaan pengiriman armada tempur ke kawasan Teluk.
"Karena kita telah mencapai keberhasilan militer yang begitu besar, kita tidak lagi 'membutuhkan,' atau menginginkan, bantuan negara-negara NATO -- KITA TIDAK PERNAH MEMBUTUHKANNYA! Demikian juga Jepang, Australia, atau Korea Selatan," tulis Trump dalam unggahan yang segera memicu reaksi diplomatik global.
Dilema Energi dan Konstitusi Jepang
- Ketergantungan Minyak: Jepang mengimpor lebih dari 90% minyak mentah dari Timur Tengah via Selat Hormuz.
- Hambatan Hukum: Konstitusi pasifis Jepang melarang pengiriman Pasukan Bela Diri (JSDF) ke wilayah konflik aktif.
- Agenda Politik: Pernyataan Trump muncul menjelang pertemuan krusial dengan PM Jepang Sanae Takaichi di Gedung Putih.
Kekecewaan terhadap NATO dan Kritik Bantuan Ukraina
Di Ruang Oval, Trump kembali menegaskan kekecewaannya terhadap NATO. Ia menilai organisasi pertahanan tersebut sebagai beban finansial bagi AS yang menghabiskan ratusan miliar dolar setiap tahun tanpa timbal balik yang sepadan.
Trump juga membandingkan situasi di Timur Tengah dengan bantuan militer AS ke Ukraina. Ia mengeluhkan bahwa AS menyediakan peralatan militer dalam jumlah besar secara gratis kepada Ukraina atas permintaan sekutu Eropa untuk melawan Rusia, tetapi sekutu yang sama enggan membantu AS di Selat Hormuz.
Aliansi Baru di Timur Tengah
Berbeda dengan sikapnya terhadap NATO, Trump justru memberikan apresiasi tinggi kepada negara-negara Teluk. Ia menyebut Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sebagai, "Negara-negara hebat," yang memberikan dukungan kuat terhadap strategi AS di kawasan tersebut.
Meskipun Trump mengeklaim keberhasilan militer, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Selat Hormuz masih dalam kondisi lumpuh akibat blokade Iran sejak serangan 28 Februari lalu. Hal ini menyebabkan harga minyak dunia tetap berada pada level tertinggi, mengancam stabilitas ekonomi negara-negara importir besar di Asia dan Eropa.
Analisis Dampak: Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting?
Selat Hormuz adalah jalur air sempit antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati selat ini setiap hari, menjadikannya titik tersedak (chokepoint) paling kritis dalam infrastruktur energi global. (Ant/Kyodo News/I-2)