Israel Lancarkan Operasi Darat di Libanon Selatan, Targetkan Markas Hizbullah


Penulis:  Thalatie K Yani - 17 March 2026, 05:19 WIB
AFP

ESKALASI konflik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah militer Israel (IDF) mengonfirmasi dimulainya "operasi darat terbatas dan terarget" terhadap kelompok bersenjata Hizbullah di wilayah selatan Libanon. Langkah ini diambil guna melumpuhkan kantong-kantong kekuatan Hizbullah yang dianggap mengancam keamanan di perbatasan utara Israel.

Dalam pernyataan resminya pada Senin (16/3), IDF menyebutkan pasukan dari Divisi 91 telah beroperasi di lapangan.

"Kegiatan ini adalah bagian dari upaya pertahanan yang lebih luas untuk memperkuat postur pertahanan depan, yang mencakup pembongkaran infrastruktur teroris dan eliminasi teroris di area tersebut, demi menghilangkan ancaman bagi penduduk Israel utara," tulis pernyataan IDF.

Krisis Kemanusiaan dan Korban Sipil

Serangan udara yang mendahului dan mengiringi operasi darat ini telah menimbulkan dampak fatal. Otoritas Libanon melaporkan bahwa sedikitnya 850 orang, termasuk 107 anak-anak, tewas sejak konflik memanas dua pekan lalu. Selain itu, sekitar 830.000 warga kini terpaksa mengungsi.

Kekerasan terbaru dilaporkan terjadi di kota Qantara, di mana serangan udara Israel menewaskan empat orang, termasuk dua anak-anak. Insiden tragis juga menimpa tim medis di desa Kfar Sir. Dua paramedis tewas terkena serangan saat hendak mengevakuasi korban di sebuah rumah yang hancur.

Kementerian Kesehatan Libanon mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional, meski Israel berkilah ambulans kerap digunakan Hizbullah untuk kepentingan militer. Tuduhan itu dibantah keras oleh pihak Libanon.

Ambisi Wilayah dan Penolakan Gencatan Senjata

Spekulasi mengenai pendudukan jangka panjang mencuat setelah muncul laporan Israel bertujuan menguasai seluruh area di selatan Sungai Litani. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan sikap kerasnya.

"Warga Syiah Libanon yang mengungsi tidak akan kembali ke rumah mereka di selatan wilayah Litani sampai keamanan penduduk di utara (Israel) terjamin," tegas Katz.

Di sisi lain, upaya diplomatik yang digalang Prancis untuk mendamaikan kedua pihak menemui jalan buntu. Rencana perundingan di Paris dikabarkan tertunda setelah Israel menarik diri. Menteri Kabinet Israel, Zeev Elkin, menyatakan tidak ada kompromi terkait pelucutan senjata Hezbollah.

"Lebanon harus memilih: apakah akan tetap menjadi sandera kepentingan Iran atau akan melucuti senjata Hezbollah?" ujar Elkin.

Respons Internasional

Para pemimpin dunia, termasuk dari Inggris, Prancis, dan Jerman, telah mengeluarkan pernyataan bersama yang memperingatkan invasi darat besar-besaran akan membawa "konsekuensi kemanusiaan yang menghancurkan."

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres terus mendesak dilakukannya gencatan senjata segera untuk mengakhiri penderitaan rakyat Lebanon yang kian memprihatinkan.(BBC/Z-2)