Pakar Unpad: Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus US$130 Jika Konflik AS-Iran Memanas
PAKAR energi dari Universitas Padjajaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai harga minyak dunia masih berpotensi melonjak hingga mencapai US$130 per barel. Kenaikan tersebut dapat terjadi jika konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang melibatkan Israel terus meningkat.
Menurut Yayan, penurunan harga minyak yang terjadi belakangan ini tidak bersifat permanen. Ia menjelaskan bahwa turunnya harga dipicu oleh langkah Amerika Serikat yang menambah pasokan minyak ke pasar global.
"Ini (penurunan harga minyak) disebabkan oleh AS mengeluarkan pasokan minyak. Lumayan besar sehingga harganya turun, tetapi ini sementara," ujar Yayan, Selasa (10/3).
Harga Minyak Sempat Melonjak
Laporan media Rusia Sputnik pada 9 Maret menyebutkan harga minyak mentah jenis Brent sempat menyentuh US$118 per barel. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak 17 Juni 2022.
Harga itu jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga minyak pada Januari 2026. Saat itu, minyak Brent (ICE) berada di kisaran US$64 per barel, sementara US WTI tercatat sekitar US$57,87 per barel.
Namun pada Selasa, harga minyak global turun ke kisaran US$80-US$85 barel. Penurunan ini terjadi setelah para menteri energi negara anggota G7 membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara bersama untuk menahan lonjakan harga. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama.
Konflik Geopolitik masih Memengaruhi Harga
Penurunan harga minyak juga dipicu oleh kemungkinan meredanya konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran telah berjalan 'very complete'.
Meski begitu, pihak Iran menegaskan belum siap menerima gencatan senjata. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan negaranya tidak akan menyetujui penghentian konflik sebelum pihak penyerang mendapat pelajaran agar tidak mengulangi tindakan militer terhadap Teheran.
Menurut Yayan, ketegangan geopolitik yang terus meningkat berpotensi kembali mendorong harga minyak global naik.
"Jadi, penurunan harga minyak hanya untuk sementara saja. Sekarang justru eskalasinya lebih tinggi, karena Trump akan mengirim pasukan darat (ground troops) ke Iran," ucap Yayan.
Dampak Jika AS Kirim Pasukan Darat
Yayan menilai pengerahan pasukan darat oleh Amerika Serikat ke Iran dapat menimbulkan kerusakan infrastruktur serta mengganggu rantai pasok energi global dalam waktu yang sulit diprediksi.
Selain itu, konflik militer berskala besar diperkirakan berlangsung cukup lama karena kepentingan strategis Amerika Serikat di kawasan tersebut.
"Seperti kasus Irak, Afghanistan, karena AS tidak ingin rugi. Kalau hanya 1-2 tahun, mereka nggak balik modal," ucap Yayan.
Kepentingan Pasar Energi Global
Dalam analisisnya, Yayan menyebut Amerika Serikat memiliki kepentingan untuk menggeser pangsa pasar minyak dari kawasan Timur Tengah ke negaranya sekitar 20%.
Langkah tersebut bertujuan menekan harga minyak global pada pertengahan hingga akhir 2026. Menurutnya, ambisi itu juga tercermin dari tindakan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela pada awal 2026.
Jika harga minyak global dapat ditekan, biaya rantai pasok Amerika Serikat akan menjadi lebih murah dan efisien, sehingga memberikan keuntungan bagi perekonomian negara tersebut. (ANT/E-4)