Harga Minyak Dunia Melonjak, Qatar Peringatkan Produksi Energi Teluk Bisa Terhenti


Penulis: Khoerun Nadif Rahmat - 06 March 2026, 23:49 WIB
Dok. AFP/Jaafar

HARGA minyak dunia melonjak setelah Qatar memperingatkan seluruh produksi minyak dan gas di kawasan Teluk berpotensi terhenti dalam beberapa hari jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut. Kenaikan harga minyak dunia terjadi di tengah meningkatnya ketegangan konflik Timur Tengah yang mengancam pasokan energi global.

Menteri Energi Qatar, Saad al Kaabi mengatakan konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi menghentikan produksi energi di kawasan Teluk yang selama ini menjadi jalur vital pasokan minyak dunia.

Dalam wawancara dengan Financial Times, ia memperingatkan dampak konflik tersebut bisa sangat luas terhadap perekonomian global.

"Jika perang ini berlanjut selama beberapa pekan, pertumbuhan PDB di seluruh dunia akan terdampak," kata Kaabi dikutip dari BBC.

"Harga energi semua orang akan meningkat. Akan ada kekurangan beberapa produk dan akan terjadi reaksi berantai dari pabrik-pabrik yang tidak bisa memasok," imbuh.

Kekhawatiran tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent pada Jumat naik menjadi US$89,17 per barel, sekitar Rp1,5 juta per barel, atau melonjak 4,4 persen dibandingkan penutupan perdagangan Kamis.

Kaabi juga memperingatkan harga minyak bisa melonjak jauh lebih tinggi jika jalur pelayaran utama di Selat Hormuz tidak dapat dilalui kapal tanker energi.

"Jika kapal tidak bisa melintasi Selat Hormuz, dalam dua hingga tiga pekan harga minyak bisa melonjak hingga US$150 per barel," ujarnya.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global setiap hari biasanya melewati selat sempit tersebut.

Namun sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada akhir pekan lalu, lalu lintas kapal di kawasan itu hampir sepenuhnya terhenti.

Dampak kenaikan harga energi mulai terasa di sejumlah negara. Konsumen di Inggris misalnya mulai menghadapi kenaikan harga bahan bakar, sementara harga gas juga mengalami peningkatan.

Meski demikian, kenaikan harga minyak dan gas saat ini masih berada di bawah level puncak yang terjadi pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Qatar sendiri merupakan salah satu produsen utama minyak dan gas alam cair atau LNG di dunia.

Perusahaan energi nasional QatarEnergy pada pekan ini menyatakan telah menghentikan produksi LNG setelah terjadi "serangan militer" terhadap fasilitas mereka.

Kaabi mengatakan sekalipun perang berhenti saat ini, proses untuk memulihkan produksi normal tidak akan berlangsung cepat.

"Bahkan jika perang berhenti sekarang, dibutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk kembali ke produksi normal," katanya.

QatarEnergy juga telah mengaktifkan klausul force majeure, yaitu ketentuan yang membebaskan perusahaan dari kewajiban pasokan akibat kondisi di luar kendali.

Kaabi memperkirakan produsen energi lain di kawasan Teluk kemungkinan akan mengambil langkah serupa dalam beberapa hari ke depan apabila konflik terus berlanjut.

Sementara itu, gangguan terhadap produksi energi juga terjadi di Irak. Otoritas wilayah Kurdistan menyatakan produksi minyak di sebuah ladang minyak yang dioperasikan perusahaan Amerika Serikat HKN Energy di Provinsi Dohuk terpaksa dihentikan setelah terjadi serangan.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui media sosial X, pemerintah daerah Kurdistan menyebut fasilitas tersebut diserang oleh kelompok bersenjata.

Serangan itu menyebabkan "kerusakan material pada ladang minyak dan penghentian produksi di lokasi tersebut."

Sumber keamanan yang dikutip kantor berita AFP menyebut serangan tersebut dilakukan menggunakan dua drone pada Kamis. Wilayah Kurdistan merupakan kawasan otonom di Irak utara yang berada di bawah pemerintahan regional Kurdistan. (H-3)