Rusia Siap Alihkan Ekspor Energi dari Eropa ke Asia
PRESIDEN Rusia Vladimir Putin menyatakan akan mempertimbangkan penghentian pasokan energi Rusia ke Eropa dan mengalihkannya ke pasar Asia. Pernyataan ini muncul di tengah rencana Uni Eropa untuk secara bertahap menghentikan impor gas Rusia hingga larangan total pada 2027.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Rusia VGTRK di Moskow pada Rabu (4/3), Putin menyinggung rencana negara-negara Eropa yang berniat menghentikan pembelian energi dari Rusia secara bertahap. Ia mengatakan Eropa berencana memperketat pembatasan terhadap impor gas Rusia, termasuk gas alam cair.
"Mereka masih, seperti yang baru saja mereka katakan, berencana untuk memberlakukan pembatasan pembelian gas Rusia, termasuk gas alam cair, dalam sebulan, dengan hari terakhir pada tanggal 24, dimulai pada tanggal 25. Dan dalam setahun, pada tahun 2027, pembatasan lebih lanjut hingga larangan total," katanya.
Menurut Putin, kondisi tersebut membuka peluang bagi Rusia untuk mengalihkan ekspor energinya ke pasar lain yang dinilai lebih menguntungkan.
"Tetapi sekarang, pasar lain sedang terbuka, dan mungkin akan lebih menguntungkan bagi kita untuk menghentikan pasokan ke pasar Eropa sekarang, untuk pindah ke pasar yang sedang terbuka dan membangun diri kita di sana," ujarnya.
Putin menegaskan bahwa gagasan tersebut tidak bermuatan politik.
"Dalam hal ini, bisa dibilang, ini hanyalah pemikiran spontan. Saya pasti akan menginstruksikan pemerintah untuk bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan kita dalam masalah ini," jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa Rusia selama ini dikenal sebagai pemasok energi yang andal bagi berbagai negara, termasuk di Eropa.
"Rusia selalu dan tetap menjadi pemasok sumber daya energi yang andal bagi semua mitra kami, termasuk, tentu saja, bagi mitra-mitra Eropa," ujarnya.
Putin menambahkan bahwa Rusia tetap siap bekerja sama dengan negara-negara yang masih menjaga hubungan energi yang stabil, termasuk beberapa negara di Eropa Timur seperti Slovakia dan Hungaria.
"Kami akan terus bekerja persis dengan cara ini dengan mitra-mitra yang juga merupakan mitra andal kami, dengan negara-negara di Eropa Timur, misalnya, seperti Slovakia dan Hongaria," terangnya.
Menurut Putin, krisis energi yang terjadi saat ini sebagian besar dipicu oleh kebijakan energi Eropa, termasuk sanksi terhadap Rusia serta pendekatan terhadap agenda energi hijau.
Ia juga menilai lonjakan harga energi di pasar global dipengaruhi berbagai faktor, termasuk perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
"Mengapa? Karena situasi keseluruhan di pasar dunia, termasuk pasar minyak, dan dalam hal ini pasar gas. Karena telah muncul klien yang siap membeli gas alam yang sama dengan harga lebih tinggi, dalam hal ini karena peristiwa di Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz, dan sebagainya," lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Putin juga menyinggung serangan terhadap kapal tanker gas Rusia di Laut Mediterania yang terjadi pada Selasa (3/3). Ia menyebut serangan tersebut sebagai tindakan terorisme yang turut memicu kenaikan harga energi.
Kementerian Transportasi Rusia sebelumnya melaporkan bahwa sebuah kapal tanker gas alam cair Rusia diserang di dekat perairan teritorial Malta dan menuding kapal nirawak milik Ukraina sebagai pelaku serangan.
Putin juga menuduh pemerintah Ukraina merugikan Uni Eropa melalui tindakan tersebut.
"Ternyata rezim Kyiv justru menggigit tangan yang memberinya makan, yaitu tangan Uni Eropa. Uni Eropa memberikan bantuan tanpa batas kepada rezim Kyiv, dengan senjata dan uang. Dan rezim Kyiv menciptakan satu masalah demi masalah bagi Uni Eropa," ujarnya.
Selain itu, Putin mengeklaim bahwa Ukraina dengan dukungan sejumlah badan intelijen Barat tengah merencanakan sabotase terhadap jaringan pipa gas Blue Stream dan TurkStream.
"Kami telah memberi tahu teman-teman Turki kami tentang masalah ini. Kita akan lihat apa yang terjadi di bidang ini, tetapi ini adalah permainan yang sangat berbahaya, terutama saat ini," pungkas Putin. (Anadolu/E-4)