Iran dan AS Lanjutkan Negosiasi Nuklir di Muscat di Tengah Ketegangan


Penulis: Ferdian Ananda Majni - 06 February 2026, 16:55 WIB
Al Jazeera

IRAN dan Amerika Serikat sepakat melanjutkan negosiasi mengenai program nuklir Iran yang dijadwalkan digelar di Muscat, Oman, pada Jumat (6/2). Pertemuan ini menandai babak baru dialog diplomatik antara kedua negara yang telah lama berseteru soal isu nuklir dan keamanan regional.

Utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, akan memimpin delegasi Washington. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi memimpin tim dari Teheran. Menurut laporan, Araghchi telah tiba di Muscat pada Kamis (5/2) malam menjelang pembicaraan penting tersebut. 

Iran: Diplomasi adalah Pilar Perdamaian

Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan tanggung jawab setiap pihak untuk memanfaatkan jalur diplomasi sebagai sarana menjaga perdamaian. 

"(Kami punya) tanggung jawab untuk tidak melewatkan kesempatan apa pun untuk menggunakan diplomasi guna menjaga perdamaian," demikian pernyataan resmi kementerian. 

Iran juga mengharapkan agar AS berpartisipasi dalam diskusi dengan penuh tanggung jawab, nyata, dan serius.

Menurut laporan New York Times yang mengutip pejabat Iran yang tidak mau disebutkan namanya, kedua pihak sepakat bahwa pembicaraan akan mengecualikan aktor regional dengan fokus utama pada isu nuklir. Pertemuan ini juga diperkirakan akan membahas isu rudal dan kelompok milisi dengan tujuan menghasilkan kerangka kerja menuju kesepakatan. 

Sikap AS: Semua Opsi Tetap Terbuka

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan bahwa Presiden Donald Trump akan tetap mempertimbangkan semua pilihan strategis dalam menghadapi ketegangan ini. 

"Dia akan berbicara dengan semua orang. Dia akan mencoba mencapai apa yang bisa dia capai melalui cara nonmiliter. Jika dia merasa militer satu-satunya pilihan, pada akhirnya dia akan memilih itu," ujar Vance. 

Pertemuan diplomatik antara Washington dan Teheran berlangsung kurang dari sebulan setelah puncak gelombang protes nasional di Iran dan ketika ketegangan kawasan terus meningkat. 

Trump sebelumnya berulang kali menegaskan ancaman akan menggunakan kekuatan militer terhadap Iran jika Tehran dianggap terus membahayakan warga Israel dan stabilitas regional. 

Trump pernah mengatakan bahwa AS memiliki armada besar yang menuju ke sana, merujuk pada pengerahan kekuatan militer di perairan Teluk untuk memberi tekanan tambahan. 

Pernyataan tersebut menggarisbawahi kompleksitas situasi di wilayah yang kini menjadi fokus pembicaraan diplomatik di Oman. (I-2)