Kursi PM Inggris Keir Starmer Digoyang Isu Pengunduran Diri Akibat Skandal Lord Mandelson


Penulis:  Thalatie K Yani - 06 February 2026, 05:17 WIB
Media Sosial X

PERDANA Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, kini berada dalam momen paling kritis sepanjang karier politiknya. Segala langkah yang diambil Downing Street hari ini mencerminkan betapa gawatnya situasi yang dihadapi pemerintah akibat skandal penunjukan Lord Mandelson sebagai diplomat utama Inggris.

Starmer bahkan memilih membatalkan agenda pidato rutin mengenai pendanaan lingkungan demi menyampaikan permintaan maaf terbuka. Ia secara khusus meminta maaf kepada para korban Jeffrey Epstein karena telah "mempercayai kebohongan Mandelson" dan tetap melantiknya meski hubungan Mandelson dengan terpidana pedofilia tersebut kini terungkap luas.

Dalam sesi tanya jawab yang sengit dengan jurnalis, Starmer mengakui memahami "kemarahan dan frustrasi para anggota parlemen (MP) Partai Buruh." Pengakuan ini sangat krusial, mengingat nasib politik sang Perdana Menteri kini berada sepenuhnya di tangan rekan-rekan separtainya yang sedang meradang.

Desakan Mundur Mulai Bermunculan

Rachael Maskell, anggota parlemen dari Partai Buruh yang kerap mengkritik kebijakan pemerintah, secara terang-terangan menyebut posisi Starmer sudah "tidak dapat dipertahankan." Menurutnya, pengunduran diri Starmer adalah sebuah keniscayaan.

"Saya tidak percaya dia punya pilihan," ujar Maskell kepada BBC Radio York. "Dia menyembunyikan fakta dari Majelis Rendah selama berbulan-bulan bahwa dia mengetahui adanya hubungan antara Peter Mandelson dan Jeffrey Epstein pada saat penunjukan."

Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut adalah "hal yang tidak terhormat" untuk dilakukan terhadap anggota parlemen maupun para korban Epstein.

Senada dengan Maskell, seorang menteri dari Partai Buruh yang enggan disebutkan namanya memberikan gambaran suram mengenai kondisi kabinet saat ini. "Satu-satunya hal yang pasti adalah pemerintah tidak lagi memegang kendali atas masalah ini, sehingga dampaknya bisa melebar ke mana saja," ujarnya.

Masa Depan di Ujung Tanduk

Meski tekanan kian menguat, beberapa pihak masih menyuarakan dukungan. John Slinger, MP untuk Rugby, meminta agar semua pihak tetap tenang dan menilai bahwa PM telah melakukan langkah yang tepat dengan meminta maaf.

Namun, sorotan kini juga tertuju pada Kepala Staf PM, Morgan McSweeney. Steve Witherden dari BBC Wales menegaskan McSweeney harus bertanggung jawab atas keputusannya mendorong penunjukan Mandelson meski rekam jejak hubungan Mandelson dan Epstein sudah menjadi rahasia umum.

Meski Starmer kini berada dalam posisi terlemahnya, tantangan kepemimpinan secara formal diprediksi tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Beberapa MP memperkirakan pergerakan politik baru akan terlihat setelah pemilihan sela di Gorton dan Denton pada akhir Februari, atau menunggu hasil pemilihan lokal pada bulan Mei mendatang.

Walaupun demikian, aura pesimisme sudah menyelimuti pemerintahan. Seorang menteri yang saat ini menjabat merangkum situasi tersebut dengan singkat: "Dia sudah selesai. Ini hanya masalah waktu." (BBC/Z-2)