AS Nilai Rusia-Ukraina Ambil Langkah Besar Menuju Perdamaian Usai Dialog Abu Dhabi


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 25 January 2026, 11:47 WIB
Instagram

AMERIKA Serikat menilai Rusia dan Ukraina telah mengambil langkah penting menuju penyelesaian konflik setelah kedua negara sepakat melanjutkan perundingan damai langsung yang dimediasi Washington. Kesepakatan itu dicapai usai pertemuan selama dua hari di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Sabtu (24/1) waktu setempat.

“Menurut saya, keberhasilan mempertemukan semua pihak saja sudah merupakan langkah besar,” kata seorang pejabat AS.

“Ini menjadi konfirmasi bahwa banyak kemajuan telah dicapai sejauh ini, terutama dalam merumuskan detail yang dibutuhkan untuk mencapai penyelesaian," tambahnya.

Pertemuan di Abu Dhabi menjadi dialog tatap muka pertama antara delegasi Rusia dan Ukraina dalam konteks rencana perdamaian yang didorong Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.

Kedua pihak terakhir bertemu langsung di Istanbul pada musim panas tahun lalu yang kala itu hanya menghasilkan kesepakatan pertukaran tawanan perang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan pembahasan berlangsung intens dan konstruktif. “Banyak hal dibicarakan, dan yang terpenting adalah diskusi berjalan secara konstruktif,” kata Zelensky.

Pertemuan yang melibatkan perwira militer senior dari kedua pihak juga dilaporkan berlangsung dalam suasana konstruktif dan positif. Fokus pembahasan meliputi elemen-elemen yang belum terselesaikan dalam kerangka perdamaian usulan AS, termasuk langkah-langkah membangun kepercayaan.

Zelensky menegaskan inti perundingan tetap berkisar pada parameter untuk mengakhiri perang. Namun, baik Moskow maupun Kyiv mengakui status wilayah Donbas di Ukraina timur masih menjadi persoalan utama yang belum menemukan titik temu.

Meski diplomasi kembali bergerak, kebuntuan masih membayangi. Kremlin menegaskan kembali tuntutannya agar Ukraina menarik pasukan dari wilayah Donbas. Sementara itu, Kyiv menolak tuntutan tersebut.

Sejumlah draf awal rencana damai AS sebelumnya menuai kritik karena dinilai terlalu mengakomodasi kepentingan Rusia. Sementara itu, Moskow juga menolak versi lanjutan yang mengusulkan kehadiran pasukan penjaga perdamaian Eropa di Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin berulang kali menyatakan Moskow akan berupaya merebut kendali penuh atas Ukraina timur dengan kekuatan militer jika jalur diplomasi menemui kegagalan.

Jalannya perundingan juga masih dibayangi eskalasi militer. Menjelang hari kedua pertemuan, serangan drone dan rudal Rusia. Pemerintah Ukraina menuding Moskow merusak proses diplomasi dengan melancarkan serangan.

Suasana di Kyiv dilaporkan mencekam ketika warga berlarian mencari perlindungan saat ledakan menerangi langit malam. Banyak warga mengaku pesimistis akan tercapainya terobosan berarti.

“Mereka akan bilang semuanya baik-baik saja, lalu lagi-lagi tidak ada kesepakatan, dan roket akan kembali menghantam,” ujar Anastasia Tolkachov, warga Kyiv.

Serangan Rusia menyebabkan lebih dari satu juta warga di Kyiv dan Chernihiv kehilangan listrik. Sekitar separuh apartemen di Kyiv juga dilaporkan terputus dari sistem pemanas. 

“Semua ini terus berulang. Ledakan, jami tidak bisa tidur dan kekhawatiran akan keselamatan anak-anak sangat melelahkan. Negosiasi yang berlangsung bahkan tidak memberi kami harapan," kata warga Kyiv, Iryna Berehova. (AFP)