Mengenal Emotional Eating: Saat Emosi Menjadi Pemicu Nafsu Makan


Penulis: Basuki Eka Purnama - 30 March 2026, 07:39 WIB
Freepik

BANYAK orang tanpa sadar menjadikan makanan sebagai pelarian saat menghadapi stres atau tekanan hidup. Fenomena ini dikenal sebagai emotional eating, sebuah perilaku makan yang dipicu oleh kondisi emosional, bukan rasa lapar fisik.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Reisi Nurdiani, SP, MSi, menjelaskan bahwa aktivitas makan memang memiliki keterkaitan erat dengan psikologis seseorang.

"Emotional eating itu salah satu bentuk perilaku makan yang merujuk pada kecenderungan seseorang mengonsumsi makanan karena kendali emosi, bukan karena lapar," ujarnya dalam IPB Podcast di kanal YouTube IPB TV.

Tidak Hanya karena Sedih

Reisi memaparkan bahwa pemicu emotional eating tidak melulu emosi negatif seperti cemas atau sedih. 

Perasaan bahagia pun bisa mendorong seseorang makan secara berlebihan sebagai bentuk perayaan. Masalah serius mulai muncul ketika kebiasaan ini dijadikan mekanisme utama untuk meredakan stres.

Menurut Reisi, ada beberapa tanda peringatan yang perlu diwaspadai:

  • Makan meski tidak merasa lapar.
  • Sulit mengontrol porsi makan.
  • Hanya menginginkan jenis makanan tertentu (craving).
  • Muncul rasa bersalah setelah makan.

Risiko pada Remaja dan Dewasa Awal

Dalam dunia nutrisi, dikenal tiga jenis perilaku makan: emotional eating (berbasis emosi), external eating (dipicu tampilan makanan), dan restrained eating (pembatasan makan secara sadar). 

Di antara ketiganya, emotional eating paling sering ditemukan pada kelompok remaja hingga dewasa awal.

"Pada masa remaja dan dewasa awal, performa tubuh sedang baik, tetapi tekanan juga tinggi, sehingga peluang terjadinya emotional eating menjadi lebih besar," jelas Reisi.

Jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini berdampak buruk bagi kesehatan. Pelaku emotional eating cenderung memilih comfort food yang tinggi gula dan lemak. 

Dalam jangka panjang, hal ini berisiko menyebabkan obesitas, penyakit degeneratif, hingga gangguan makan seperti *binge eating*.

Langkah Pengendalian dan Solusi

Reisi menekankan bahwa kunci utama untuk memutus rantai ini bukanlah diet ketat, melainkan pengelolaan emosi.

"Yang pertama adalah kita harus mampu mengendalikan emosi, karena itu pemicu utamanya," tegasnya.

Beberapa langkah praktis yang disarankan untuk mengendalikan emotional eating meliputi:

  • Mindful Eating: Makan secara sadar dengan memahami manfaat makanan bagi tubuh.
  • Pola Gizi Seimbang: Mengatur asupan nutrisi agar tubuh tetap stabil.
  • Relaksasi dan Aktivitas Fisik: Mengurangi stres pemicu makan berlebih melalui olahraga atau hobi.
  • Dukungan Sosial: Mencari bantuan profesional jika kebiasaan ini sulit dihentikan.

Reisi menyarankan bagi mereka yang sudah terjebak dalam siklus ini untuk berkonsultasi dengan psikolog terlebih dahulu guna menangani akar emosinya, sebelum mendapatkan pendampingan dari ahli gizi. Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa makanan bukanlah solusi utama untuk mengatasi stres. (Z-1)