Bukan Sekadar Fisik, Ahli IPB Univesity Tekankan Pentingnya Fungsi Keayahan dalam Pengasuhan
ISU fatherless atau ketiadaan peran ayah kini tengah menjadi sorotan di Indonesia. Namun, Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga IPB University, Prof. Euis Sunarti, menegaskan bahwa fenomena ini tidak bisa dilihat hanya dari hadir atau tidaknya sosok ayah secara fisik di rumah.
Menurut Prof. Euis, fatherless sejatinya merujuk pada ketiadaan peran, bukan semata ketiadaan raga. Ia menyoroti fenomena ayah ada tapi tiada, ketika seorang ayah tinggal serumah namun secara emosional tidak terlibat dalam pengasuhan.
Data sebagai Peringatan, Bukan Stigma
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024, sekitar 20,1% anak Indonesia berpotensi tumbuh tanpa pengasuhan ayah.
Indikatornya meliputi anak yang tinggal hanya bersama ibu, tinggal bersama kakek-nenek, atau memiliki ayah yang bekerja lebih dari 12 jam sehari.
Meski angka tersebut cukup signifikan, Prof. Euis meminta masyarakat bijak dalam membacanya.
"Itu warning agar kita meningkatkan kesadaran. Jangan langsung memaknai semua kondisi itu berdampak buruk," ujarnya dalam tayangan IPB Podcast.
Pentingnya Sistem Pendukung (Support System)
Dampak dari kondisi fatherless sangat bergantung pada ketersediaan figur pengganti. Prof. Euis menjelaskan bahwa fungsi keayahan bisa diisi oleh kakek, paman, guru, hingga lingkungan sosial yang positif.
Bahkan, dalam banyak kasus, anak yang kehilangan ayah biologis (yatim) tetap bisa tumbuh sukses tanpa penyimpangan perilaku selama kebutuhan emosionalnya terpenuhi.
"Banyak anak yatim yang berhasil... Jadi bukan soal ada atau tidaknya ayah, tetapi apakah fungsi pengasuhan itu hadir," jelasnya.
Sebaliknya, pengabaian emosional oleh ayah yang hadir secara fisik justru bisa menimbulkan luka yang lebih dalam. Prof. Euis menemukan fakta bahwa anak-anak seringkali lebih memilih ditegur daripada diabaikan.
"Ada anak yang mengatakan lebih baik dimarahi daripada dicuekin. Artinya, kebutuhan perhatian itu sangat mendasar," tambahnya.
Solusi: Membangun Memori dan Kepedulian Lingkungan
Untuk mengatasi tantangan ini, Prof. Euis menawarkan dua pendekatan utama:
Kualitas di Atas Kuantitas: Orangtua perlu menciptakan core memory positif melalui kebersamaan yang dirancang secara sadar.
"Menyapa, mendengarkan, atau membuat agenda khusus bersama anak bisa membuat kehadiran ayah benar-benar dirasakan," ungkapnya.
Kepedulian Komunitas: Mengaktifkan peran tetangga dan keluarga besar melalui konsep Kampung Ramah Keluarga untuk menciptakan ruang tumbuh yang sehat bagi anak.
Sebagai penutup, ia mengingatkan agar narasi mengenai tingginya angka fatherless di Indonesia tidak digunakan untuk menyudutkan para ayah atau menciptakan stigma negatif. Fokus utamanya haruslah pada peningkatan kesadaran dan penguatan dukungan lingkungan demi ketahanan keluarga. (Z-1)