BRIN dan FAO Perkuat Kolaborasi Transformasi Peternakan Berkelanjutan


Penulis: Ficky Ramadhan - 28 March 2026, 10:57 WIB
Dok.MI

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mendorong transformasi sektor peternakan yang lebih berkelanjutan melalui penguatan riset, inovasi, serta kemitraan global.

Sektor peternakan memiliki posisi krusial dalam sistem agripangan dunia. Selain menyumbang sekitar sepertiga kebutuhan protein global, sektor ini juga menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 1,3 miliar orang, khususnya peternak kecil dan masyarakat pedesaan. Namun demikian, meningkatnya permintaan pangan turut diiringi tantangan besar, mulai dari isu keberlanjutan, perubahan iklim, hingga efisiensi penggunaan sumber daya.

Kepala BRIN, Arif Satria menegaskan Indonesia memiliki peran strategis dalam pengembangan sektor peternakan, terutama dalam mendukung ketahanan pangan dan peningkatan gizi masyarakat.

"Pertemuan strategis ini menegaskan komitmen Indonesia dalam menjawab tantangan global melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi. Dengan memperkuat kapasitas riset dan mengadopsi praktik berkelanjutan, kita tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat ketahanan sektor peternakan terhadap perubahan iklim," kata Arif dalam keterangannya, Sabtu (28/3).

Senada dengan hal itu, Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal menyebut bahwa kolaborasi lintas pihak menjadi kunci dalam membangun sistem peternakan yang lebih efisien dan inklusif.

"Diskusi dan kemitraan yang lahir dari pertemuan ini akan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem peternakan yang selaras dengan prioritas nasional dan tujuan global. FAO berkomitmen untuk terus mendukung Indonesia dalam transformasi ini melalui pendekatan berbasis sains dan kemitraan strategis," jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut juga diluncurkan fase terbaru Global Livestock Environmental Assessment Model (GLEAM) dari FAO. Model ini merupakan alat analisis komprehensif yang digunakan untuk mengukur dampak lingkungan dari sistem peternakan, sekaligus memberikan rekomendasi strategi peningkatan efisiensi dan keberlanjutan.

Keberadaan GLEAM diharapkan dapat membantu pembuat kebijakan, peneliti, serta pelaku industri dalam merancang kebijakan berbasis data. Dengan demikian, upaya pengurangan dampak lingkungan dapat dilakukan tanpa mengabaikan keseimbangan aspek ekonomi dan sosial.

FAO juga mengadakan pelatihan teknis bagi 100 pakar dan spesialis terkait penggunaan GLEAM serta pedoman terbaru dari kemitraan Livestock Environmental Assessment and Performance (LEAP). Program ini bertujuan membantu negara dalam menilai sekaligus mengoptimalkan kontribusi jasa ekosistem dari sektor peternakan.

Asisten Direktur Jenderal FAO, Thanawat Tiensin menekankan pentingnya kolaborasi global dalam menjawab tantangan sektor peternakan.

"Dunia membutuhkan visi bersama, tanggung jawab kolektif, dan pendekatan One Health sebagai solusi menyeluruh untuk transformasi peternakan yang berkelanjutan. Sains dan inovasi menjadi kunci dalam memastikan ketahanan pangan, gizi, serta keberlanjutan mata pencaharian masyarakat," tegasnya.

BRIN dan FAO menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat sinergi global dalam membangun sistem peternakan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan diharapkan mampu menjadi fondasi bagi masa depan sistem agripangan yang lebih resilien. (Z-2)