Obesitas bukan Sekadar Risiko, Tapi Penyakit Kronis yang Mengancam Reproduksi


Penulis: Basuki Eka Purnama - 22 March 2026, 11:51 WIB
Freepik

DOKTER Spesialis Penyakit Dalam, dr. M. Vardian Mahardika, M.Biomed, Sp.PD, AIFO-K, menegaskan bahwa obesitas telah dikategorikan sebagai penyakit kronis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2022. Kondisi ini bukan sekadar masalah berat badan, melainkan pemicu berbagai gangguan kesehatan serius, termasuk sistem reproduksi.

Dampak pada Hormon dan Reproduksi

Menurut Vardian, obesitas sangat memengaruhi keseimbangan hormon, terutama pada perempuan. Hal ini memicu kondisi seperti Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) hingga endometriosis yang berdampak pada kesuburan (fertilitas).

“Obesitas itu banyak banget datang tiba-tiba dengan fertilitas, misalnya PCOS. Kemudian endometriosis, itu juga bisa terjadi karena kondisi obesitas. Jadi perempuan-perempuan mulai harus lebih aware dengan yang namanya obesitas,” kata Vardian, dikutip Minggu (22/3).

Risiko ini semakin nyata saat perempuan memasuki fase perimenopause di usia 45–50 tahun. Penurunan kadar hormon pada fase ini membuat berbagai penyakit lebih mudah muncul, terutama jika seseorang sudah memiliki riwayat obesitas sebelumnya.

Salah Kaprah Definisi Obesitas

Vardian juga menyoroti kekeliruan masyarakat yang hanya menjadikan berat badan atau Body Mass Index (BMI) sebagai patokan tunggal. Menurutnya, BMI belum tentu mampu menggambarkan distribusi lemak dan komposisi tubuh secara menyeluruh.

“Makanya banyak orang yang badannya kelihatannya tidak obesitas, tapi ketika kita cek lingkar perutnya, perbandingan lingkar perut dengan lingkar paha, tinggi badan, ternyata lemaknya sudah tinggi dan masuk ke kategori obesitas,” tuturnya.

Komplikasi dari Pikun hingga Gagal Jantung

Bahaya obesitas meluas ke berbagai organ tubuh. Di tingkat sistem saraf, obesitas meningkatkan risiko demensia dan Alzheimer. 

Sementara pada sistem pernapasan, penderita rentan mengalami sleep apnea atau henti napas saat tidur yang ditandai dengan mendengkur.

Selain itu, obesitas menjadi faktor risiko terbesar untuk:

  • Penyakit Kardiovaskular: Meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, hingga gagal jantung.
  • Metabolik dan Organ Dalam: Memicu diabetes tipe 2, batu empedu, serta fatty liver yang dalam jangka panjang bisa berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.
  • Masalah Seksual dan Fisik: Penurunan libido akibat jaringan lemak yang mengubah testosteron menjadi estrogen, serta beban berlebih pada persendian.

Penanganan yang Komprehensif

Mengingat statusnya sebagai penyakit kronis, dr. Vardian menekankan bahwa penanganan obesitas tidak bisa dilakukan sembarangan atau hanya mengandalkan niat semata.

“Kompleks banget kalau kita ngomongin obesitas. Penanganannya tidak bisa niat aja, olahraga, makan dikurangi. Enggak sesimpel itu. Harus ada peran dokter, lifestyle modification, farmakologi (obat-obatan), dan mungkin operasi bariatrik,” pungkas dokter lulusan Universitas Brawijaya tersebut. (Ant/Z-1)