Membangun Benteng Digital: Kolaborasi Orangtua dan Sekolah Kunci Efektivitas PP Tunas


Penulis: Basuki Eka Purnama - 20 March 2026, 20:40 WIB
Freepik

KEHADIRAN Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Pelindungan Anak di Ruang Digital (PP Tunas) menjadi angin segar bagi keamanan siber anak di Indonesia. Namun, regulasi ini tidak akan berjalan optimal tanpa peran aktif orang tua dan institusi pendidikan dalam menutup celah potensi bahaya di dunia maya.

Guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa meskipun platform digital kini diwajibkan membatasi akses bagi anak, pengawasan manual tetap menjadi garda terdepan.

"PP Tunas ini sangat membantu, tapi orang tua dan sekolah juga harus diaktifkan. Kalau tidak, anak akan tetap mencari celah," ujar Prof. Rose, dikutip Jumat (20/3).

Literasi Digital dan Pendampingan

Menurut Prof. Rose, efektivitas PP Tunas sangat bergantung pada peningkatan literasi digital orangtua. Saat ini, banyak platform telah menyediakan fitur kendali orangtua (parental control), namun belum semua orangtua memahami cara mengoperasikannya. 

Ia menekankan bahwa orangtua harus memahami perkembangan teknologi agar mampu mendampingi sekaligus memantau aktivitas anak secara tepat.

"Kalau tidak ada pengawasan, anak bisa mencari jalan lain. Ini yang harus diantisipasi," tegasnya.

Fondasi Moral Sejak Dini

Selain aspek teknis, pembangunan karakter menjadi instrumen penting dalam memfilter dampak negatif teknologi. Prof. Rose menjelaskan bahwa penanaman nilai-nilai dasar seperti kejujuran, disiplin, empati, kontrol diri, hingga toleransi harus dimulai sejak usia dini.

"Karakter seperti jujur, disiplin, itu berasal dari moral. Dan moral itu harus diajarkan, bukan sekadar disuruh. Kalau anak tidak diajarkan empati dan kontrol diri sejak kecil, akan sulit bagi mereka membedakan mana yang baik dan buruk," tambahnya.

Komunikasi Dua Arah

Senada dengan hal tersebut, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, atau yang akrab disapa Kak Seto, menyebutkan bahwa keterlibatan orang tua adalah pendukung terbesar bagi keberhasilan regulasi ini.

"Regulasi sudah ada, tetapi yang terbesar pendukungnya adalah orangtua. Tanpa keterlibatan mereka, perlindungan anak tidak akan optimal," kata Kak Seto.

Sebagai langkah konkret, Kak Seto menyarankan agar orangtua membangun komunikasi dua arah yang sehat. 

Dengan menciptakan ruang diskusi yang terbuka, anak akan merasa lebih dipahami kebutuhannya, sehingga mereka tidak merasa tertekan dalam mengikuti batasan-batasan digital yang ditetapkan di rumah. (Ant/Z-1)