Mengenal Cocktail Party Deafness, Gejala Awal Gangguan Pendengaran pada Lansia


Penulis: Basuki Eka Purnama - 20 March 2026, 10:39 WIB
Freepik

GANGGUAN pendengaran merupakan kondisi yang umum terjadi seiring bertambahnya usia. Namun, banyak keluarga yang terlambat menyadarinya karena gejala awal sering dianggap sebagai hal yang lumrah. Salah satu indikator utama yang perlu diwaspadai adalah fenomena yang dikenal dengan istilah cocktail party deafness.

Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok-Bedah Kepala dan Leher (THT-BKL), Prof. Dr. dr. Jenny Bashirudin, Sp.THTBKL, Subsp.NO (K), menjelaskan bahwa kondisi ini membuat lansia kesulitan menangkap suara di tengah keramaian.

"Biasanya kalau di tempat ramai, dia (lansia) itu sudah merasa enggak bisa (mendengar). Itu disebut sebagai cocktail party deafness," ujar dokter dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) tersebut dalam sebuah diskusi daring.

Gejala dan Tanda-Tanda Kerusakan

Menurut Jenny, gejala ini tidak hanya muncul di tempat publik yang bising. Lansia juga mulai merasakan ketidaknyamanan saat berada dalam situasi formal yang melibatkan banyak orang.

"Jadi, ketika ramai, banyak orang, dia mulai enggak jelas mendengar, atau ketika ikut rapat itu juga dia mulai enggak jelas, enggak nyaman," tambahnya.

Selain sulit mendengar di keramaian, terdapat beberapa tanda klinis dan perubahan perilaku lainnya yang patut diwaspadai, antara lain:

  • Tinnitus (Telinga Berdenging): Sensasi suara berdenging tanpa adanya sumber suara eksternal. Hal ini menandakan adanya kerusakan pada koklea atau bagian telinga dalam yang berbentuk seperti rumah siput.
  • Volume Televisi Meningkat: Kebiasaan menonton televisi dengan volume yang sangat keras.
  • Komunikasi Terhambat: Sering meminta lawan bicara untuk mengulang perkataan karena suara yang terdengar tidak jelas.

Pentingnya Deteksi Dini

Gangguan pendengaran pada lansia umumnya disebabkan oleh proses degenerasi yang memengaruhi fungsi tulang-tulang pendengaran dan koklea. 

Jika dibiarkan, penurunan kemampuan mendengar ini dapat menurunkan kualitas hidup lansia secara signifikan karena hambatan komunikasi.

Oleh karena itu, pemeriksaan fungsi pendengaran secara berkala sangat dianjurkan. 

"Itu semua harus menjadi penanda untuk memeriksakan secara bagaimana sih fungsi pendengarannya, supaya kita tahu, karena kalau diketahui gangguan sejak dini maka itu bisa dibantu," tegas Jenny.

Prevalensi Global

Masalah ini merupakan isu kesehatan global yang serius. Berdasarkan makalah ilmiah Hearing Loss in the Elderly (2023), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 400 juta individu di seluruh dunia mengalami gangguan pendengaran.

Data menunjukkan bahwa prevalensi gangguan pendengaran hampir berganda setiap 10 tahun kehidupan seseorang. 

Penanganan yang tepat biasanya didasarkan pada evaluasi diagnostik yang menyeluruh untuk memastikan penyebab spesifiknya, sehingga langkah rehabilitasi dapat dilakukan secara efektif. (Ant/Z-1)