Mudik: Bukan Sekadar Perjalanan Fisik, Waspadai Risiko Gangguan Mental
SELAMA ini, persiapan mudik identik dengan urusan logistik, mulai dari berburu tiket, mengecek kondisi kendaraan, hingga menyiapkan buah tangan untuk keluarga di kampung halaman. Namun, ada satu aspek krusial yang kerap luput dari perhatian para pemudik: kesiapan mental.
Dokter sekaligus Pendiri Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengungkapkan bahwa perjalanan pulang kampung menyimpan risiko psikologis yang nyata.
Merujuk pada riset behavioral travel survey tahun 2023 oleh World Travel & Tourism Council (WTTC), ditemukan fakta bahwa sekitar 41% orang dewasa yang melakukan mudik mengalami gejala kecemasan (anxiety) serta depresi ringan hingga sedang selama periode perjalanan.
Faktor Pemicu Tekanan Mental
MI/HO--Dokter sekaligus Pendiri Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH
Menurut Ray, kondisi ini dipicu oleh akumulasi berbagai faktor stres. Secara fisik, perjalanan jarak jauh dengan ketidakpastian waktu tempuh dan kelelahan yang ekstrem menjadi pemicu utama.
Di Indonesia, beban ini bertambah berat akibat kemacetan ekstrem, perubahan pola tidur, serta ketidakteraturan pola makan yang memicu stres biologis pada tubuh.
Namun, tekanan tidak berhenti pada kelelahan fisik saja. Ray, yang juga merupakan Inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa, menyoroti adanya "tekanan sosial" yang menyertai momen mudik.
“Bagi banyak orang, pulang ke kampung halaman bukan sekadar bertemu keluarga, tetapi juga menghadapi ekspektasi sosial yang tidak tertulis. Pertanyaan tentang pekerjaan, status pernikahan, hingga pencapaian hidup kerap menjadi sumber tekanan tersendiri,” ujar Ray melalui edukasi di akun Instagramnya, @ray.w.basrowi.
Ekspektasi untuk selalu "terlihat berhasil" di hadapan lingkungan sosial menciptakan beban psikologis yang signifikan. Ketika tekanan sosial tersebut bertemu dengan kelelahan fisik, terciptalah *stressor* akumulatif yang saling memperkuat satu sama lain.
Dampak dan Langkah Mitigasi
Dampak dari kelelahan mental ini sering kali tidak kasat mata. Pemudik mungkin menjadi lebih mudah tersinggung, sulit menikmati kebersamaan, mengalami overthinking, hingga cenderung menarik diri dari interaksi.
Alih-alih menjadi momen pemulihan diri, libur mudik justru bisa berubah menjadi periode kelelahan mental yang tidak disadari.
Agar perjalanan tetap sehat secara menyeluruh, Ray menyarankan beberapa strategi sederhana untuk menjaga kesehatan mental selama mudik:
- Menurunkan ekspektasi terhadap situasi di perjalanan maupun interaksi sosial yang akan dihadapi.
- Menerima kondisi bahwa tidak semua pertanyaan pribadi dari kerabat harus dijawab secara mendalam.
- Meluangkan waktu untuk istirahat mental di sela-sela perjalanan.
- Menjaga kesadaran diri terhadap kondisi emosi secara berkala.
Tanpa kesiapan mental yang matang, tubuh mungkin sampai di tujuan secara geografis, namun kondisi psikologis sudah terkuras habis
Idealnya, mudik adalah perjalanan kembali yang membawa ketenangan, bukan justru menambah beban hidup. (Z-1)