Penyumbatan Jantung jadi Pembunuh Nomor Satu di Dunia, Kenali Gejala, Penanganan, dan Cara Mencegahnya
JANTUNG merupakan organ vital yang memompa darah ke seluruh tubuh tanpa henti. Jika jantung berhenti berdetak, fungsi organ lainnya pun akan lumpuh. Salah satu ancaman paling serius adalah penyumbatan jantung, kondisi yang sering terjadi tanpa disadari namun berisiko fatal.
“Sampai saat ini (penyakit jantung koroner) masih menjadi penyebab utama kematian bagi seluruh umat manusia di dunia. Tidak terkecuali mau di Indonesia, mau di Jepang, mau di Amerika, mau di Eropa, semua sama, pembunuh nomor 1 (mereka) adalah penyakit jantung koroner,” Jelas Dr. Nanda Iryuza, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Jantung dan Pembuluh Darah Kardiologi Intervensi RS Pondok Indah dalam Media Discussion di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (4/3).
Apa Itu Penyumbatan Jantung?
Penyumbatan jantung atau Penyakit Jantung Koroner (PJK) terjadi akibat penumpukan plak (lemak, kolesterol, dan kalsium) pada arteri koroner. Fenomena ini menghambat suplai oksigen ke otot jantung (iskemia). Jika dibiarkan, kondisi ini akan memicu serangan jantung.
Faktor risiko kondisi ini terbagi menjadi dua kategori utama. Pertama, faktor yang tidak dapat diubah (usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, dan latar belakang etnis) dan faktor yang dapat diubah (intervensi gaya hidup, seperti menghentikan kebiasaan merokok, mengontrol hipertensi, menjaga kadar kolesterol, serta mengatasi obesitas).
Mengenali Gejala dan Tindakan Darurat
Gejala penyumbatan jantung sangat bervariasi tergantung pada tingkat keparahannya. Namun, ada beberapa tanda klasik yang harus diwaspadai, di antaranya:
- Nyeri Dada (Angina): Sensasi seperti tertekan, berat, atau terbakar di area dada.
- Sesak Napas: Kesulitan bernapas yang muncul saat beraktivitas maupun beristirahat.
- Nyeri Menjalar: Rasa sakit yang merambat ke lengan kiri, leher, hingga rahang.
- Keringat Dingin: Munculnya keringat dingin, mual tiba-tiba, pusing, hingga sensasi ingin pingsan.
Jika Anda atau orang terdekat merasakan gejala-gejala di atas, tindakan paling tepat adalah segera menuju Unit Gawat Darurat (UGD). "Makin banyak otot jantung yang bisa kita selamatkan itu makin besar kemungkinan selamat kita atau kesempatan kita menyelamatkan pasien tersebut," Jelas Dr. Nanda.
Diagnosis dan Penanganan Modern
Untuk diagnosis, tim medis menggunakan EKG (rekam jantung), tes darah troponin untuk melihat tingkat kerusakan otot, dan angiografi koroner untuk visualisasi penyumbatan.
Kemudian penanganan dilakukan melalui terapi obat pengencer darah, pemasangan stent atau ring (PCI), hingga operasi bypass (CABG). Kini, prosedur tersebut didukung teknologi pencitraan intravaskular (seperti OCT dan IVUS) serta alat pemecah plak keras (Rotablator, IVL, dan FFR) untuk hasil yang lebih presisi.
Fase Pemulihan dan Pencegahan
Proses pemulihan pasca-serangan jantung umumnya memakan waktu dua minggu hingga tiga bulan. Dr. Nanda menekankan bahwa fase setelah serangan pertama adalah waktu yang paling kritis untuk mencegah serangan berikutnya.
"Banyak orang yang berhasil selamat pada saat serangan jantung pertama menganggap dirinya sudah bebas dari sakit jantung. Padahal justru ini di fase kritis. Bagaimana dia kemudian bisa selamat, bagaimana dia bisa mengatur hidupnya, menukar gaya hidupnya, mengganti gaya hidupnya dengan gaya hidup yang lebih baik sehingga tidak terjadi serangan jantung ulang, ini sangat penting." kata Dr. Nanda.
Pencegahan tetap menjadi langkah terbaik melalui pola hidup sehat, olahraga teratur, dan pemeriksaan rutin untuk menekan risiko penyumbatan jantung secara signifikan. (P-3)