Baca Niat Puasa Ramadan Pakai Ramadhana atau Ramadhani yang Benar?


Penulis:  Media Indonesia - 23 February 2026, 18:40 WIB
Dok Istimewa

SETIAP mau niat puasa Ramadan suka kepikiran enggak sih tentang cara bacanya yang berbeda dalam pengucapan ramadhana di satu tempat dan ramadhani di tempat lain. Ternyata, perbedaan ini sudah dibahas para ulama sejak dulu. 

Hal itu bukan soal salah atau benar, tetapi soal kaidah bahasa Arabnya. Nah, kalau kamu sendiri tim mana nih? Tim Ramadhana atau Tim Ramadhani?

Dalam pelafalan lafaz رَمَضَان (ramadhan) sering kali terjadi dilema. Ini karena sebagian membacanya ramadhana dengan fathah di huruf nun. 

Sedangkan sebagian yang lain memilih membacanya dengan ramadhani) dengan kasrah nun. Lantas, manakah yang benar? Apakah memengaruhi keabsahan puasa kita? Berikut penjelasannya sebagaimana dilansir Pondok Lirboyo di Instagram.

Lafaz Niat Puasa Ramadan

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ/رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَّةِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin 'an adaa i fardhi syahri ramadhaana/ramadhaani hadzihiz sanati lillahi ta'ala.

Artinya: "Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala."

Mengapa Dibaca Ramadhana? (Fathah)

Kelompok yang membaca Ramadhana merujuk pada status kata Ramadhan sebagai Isim Ghairu Munsharif. Dalam kaidah bahasa Arab, Isim Ghairu Munsharif adalah kata benda yang tidak boleh menerima tanwin.

Secara gramatika, kata Ramadhan dalam niat tersebut berkedudukan sebagai mudhaf ilaih (kata yang disandarkan). Normalnya, mudhaf ilaih dibaca kasrah (jar). Namun, karena statusnya sebagai Isim Ghairu Munsharif, maka tanda jar-nya digantikan dengan fathah.

Alasan lainnya adalah sebagian ulama berpendapat bahwa kata Ramadhan adalah nama (isim 'alam) yang secara aturan tidak boleh disambung (idhafah) dengan lafaz setelahnya (hadzihis sanati). Keterangan ini lazim ditemukan dalam kitab Hasyiyah al-Jamal.

Baca juga: Tarawih 20 Rakaat Vs 8 Rakaat antara Umar bin Khattab dan Al-Bani

Mengapa Dibaca Ramadhani? (Kasrah)

Di sisi lain, banyak pula yang memilih membaca Ramadhani. Pendapat ini didukung oleh ulama seperti Syaikh al-Barmawi dan Syekh Sulaiman al-Jamal. Dasar argumennya adalah kata Ramadhan di situ sedang disambung (di-idhafah-kan) kepada lafaz setelahnya, yaitu hadzihis sanati (tahun ini).

Dalam kaidah Nahwu, jika satu Isim Ghairu Munsharif disambungkan (idhafah) dengan kata lain, tanda jar-nya kembali menjadi kasrah. Selain itu, membaca kasrah dianggap lebih aman untuk menghindari kerancuan makna, agar kata penunjuk hadzihis sanati benar-benar merujuk pada bulan Ramadan tahun ini, bukan pada aktivitas niatnya.

Baca juga: Kenali Keajaiban Al-Muqaddim, Asmaul Husna yang Jarang Diketahui

Apakah Memengaruhi Keabsahan Puasa?

Pertanyaan besarnya yaitu apakah perbedaan bacaan ini bisa membatalkan puasa? Jawabannya, tentu saja tidak.

Perbedaan pendapat ini murni berada dalam ranah gramatika bahasa Arab antara madzhab Basrah dan Kufah. Perbedaan tersebut hanya berimbas pada kefasihan penuturan (fashahah) dan nilai estetika bahasa, tetapi tidak sampai menimbulkan konsekuensi batalnya puasa.

Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti

Perlu diingat bahwa tempat niat yang utama adalah di dalam hati. Melafalkan niat secara lisan hukumnya ialah sunah untuk membantu memantapkan hati. Jadi, baik Anda menggunakan akhiran 'a' maupun 'i' pada kata ramadhan, puasa Anda tetap sah selama syarat dan rukun lain terpenuhi. (I-2)

Baca juga: Hanya 7 Menit per Salat Taktik Khatam Al-Quran 30 Juz tanpa Ganggu Jadwal Kerja

FAQ: Pertanyaan Seputar Niat Ramadan

Pertanyaan Jawaban
Mana yang lebih utama? Keduanya benar secara kaidah bahasa Arab. Pilih yang paling mantap di hati.
Kapan batas waktu niat? Niat dilakukan pada malam hari hingga sebelum fajar shadiq (Subuh).
Bolehkah niat dalam bahasa Indonesia? Sangat boleh, karena intinya adalah kesengajaan di dalam hati.