Benarkah Manusia Prasejarah Sudah Mengubah Wajah Alam Eropa Sebelum Era Pertanian?


Penulis:  Thalatie K Yani - 13 February 2026, 11:31 WIB
Wikimedia

SELAMA ini, narasi sejarah sering kali menempatkan masa sebelum pertanian sebagai era ketika alam Eropa masih berupa hutan belantara yang tak tersentuh. Namun, sebuah penelitian terbaru dari tim internasional yang dipimpin Aarhus University mematahkan anggapan tersebut. 

Jauh sebelum manusia mulai bercocok tanam, Neanderthal dan pemburu-pengumpul Mesolitikum ternyata telah memberikan dampak signifikan terhadap ekosistem benua tersebut.

Simulasi AI Mengungkap Peran Manusia

Menggunakan simulasi komputer canggih yang dipadukan dengan data fosil serbuk sari (polen), para peneliti memodelkan dua periode hangat di masa lalu. Interglasial Terakhir (125.000–116.000 tahun lalu) saat Neanderthal mendominasi, dan Holosen Awal (12.000–8.000 tahun lalu) saat spesies kita, Homo sapiens, mulai menetap.

Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS One ini menunjukkan iklim dan kebakaran alami saja tidak cukup untuk menjelaskan perubahan vegetasi yang terekam dalam data fosil.

"Menjadi jelas bagi kami bahwa perubahan iklim, herbivora besar, dan kebakaran hutan alami saja tidak dapat menjelaskan hasil data serbuk sari tersebut. Memasukkan faktor manusia ke dalam persamaan, serta efek kebakaran akibat manusia dan aktivitas berburu, menghasilkan kecocokan yang jauh lebih baik," ujar Jens-Christian Svenning, profesor biologi di Aarhus University.

Perburuan Megafauna dan Perubahan Lanskap

Dampak manusia purba terjadi melalui dua cara utama: penggunaan api untuk membuka lahan dan perburuan hewan herbivora raksasa (megafauna). Pada masa Neanderthal, Eropa dihuni oleh gajah purba seberat 13 ton, badak, dan bison. Perburuan terhadap hewan-hewan ini secara tidak langsung mengubah kepadatan vegetasi.

"Neanderthal tidak menahan diri untuk berburu dan membunuh bahkan gajah raksasa... Namun, efeknya terbatas karena jumlah Neanderthal sangat sedikit sehingga mereka tidak memusnahkan hewan besar atau peran ekologis mereka, berbeda dengan Homo sapiens di masa-masa berikutnya," tambah Svenning.

Data menunjukkan pemburu-pengumpul Mesolitikum (Homo sapiens) mampu memengaruhi hingga 47% distribusi jenis tanaman. Sementara itu, pengaruh Neanderthal lebih kecil namun tetap terukur, yakni sekitar 6% pada distribusi tanaman dan 14% pada keterbukaan vegetasi.

Bukan Sekadar Alam Liar

Temuan ini menegaskan manusia purba bukan sekadar penumpang di Bumi, melainkan arsitek ekosistem. Anastasia Nikulina, salah satu peneliti utama, menjelaskan bahwa integrasi antara arkeologi, ekologi, dan kecerdasan buatan (AI) memungkinkan mereka mengidentifikasi skenario yang paling mungkin terjadi di masa lampau.

"Neanderthal dan pemburu-pengumpul Mesolitikum adalah rekan pencipta ekosistem Eropa secara aktif," tegas Svenning.

Studi ini membuka perspektif baru bahwa konsep 'alam murni' mungkin tidak pernah benar-benar ada sejak manusia menginjakkan kaki di tanah Eropa. Ke depan, metode simulasi serupa akan diterapkan di wilayah lain seperti Amerika dan Australia untuk melihat bagaimana kehadiran manusia mengubah lanskap dunia secara global. (Science Daily/Z-02)