Target Nol Kematian Dengue 2030 Dinilai Masih Penuh Tantangan


Penulis: Atalya Puspa     - 11 February 2026, 06:57 WIB
freepik

TARGET nnol kematian akibat dengue pada 2030 yang dicanangkan negara-negara ASEAN dinilai memerlukan upaya luar biasa, terutama bagi Indonesia yang hingga kini masih mencatat angka kematian dengue relatif tinggi dibandingkan rata-rata global. Hal itu disampaikan Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Adjunct Professor Griffith University Australia, Tjandra Yoga Aditama. 

Ia mengingatkan bahwa komitmen regional ASEAN terhadap pengendalian dengue bukanlah hal baru. Ia menyinggung kembali momentum tahun 2011, saat Indonesia menyelenggarakan ASEAN Dengue Conference yang menghasilkan Jakarta Call for Action on Combating Dengue. Deklarasi tersebut kemudian dicanangkan bersamaan dengan peluncuran resmi Hari Dengue ASEAN atau ASEAN Dengue Day pada 15 Juni 2011 di Museum Nasional Jakarta, yang untuk pertama kalinya diperingati di Indonesia.

“Target nol kematian dengue tahun 2030 merupakan kelanjutan dari komitmen panjang ASEAN. Namun, tantangannya masih sangat besar,” ujar Tjandra dalam keterangan resmi, Selasa (10/2). 

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada 2025 tercatat 161.752 kasus dengue di Indonesia dengan 673 kematian. Angka tersebut menunjukkan case fatality rate (CFR) sebesar 0,42%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan CFR dengue global sebesar 0,07%, sebagaimana dilaporkan dalam artikel ilmiah   14 million cases and 9000 deaths reported in 2024 yang dipublikasikan di International Journal of Infectious Diseases pada September 2025.

Menurut Tjandra, kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia perlu bekerja jauh lebih keras jika ingin mencapai target Zero Dengue Deaths pada 2030.

Ia menekankan sedikitnya sembilan langkah penting dalam pengendalian dengue, dengan pengendalian vektor nyamuk sebagai pilar utama. Upaya ini mencakup penerapan 3M Plus secara konsisten, penguatan peran pengelola kesehatan, serta partisipasi aktif masyarakat.

Langkah berikutnya adalah penguatan surveilans yang adaptif terhadap fluktuasi perubahan iklim. Selain itu, penanganan kasus harus mencakup deteksi dini dengan ketersediaan alat diagnostik seperti rapid diagnostic test (RDT), sistem rujukan yang baik, serta pelayanan optimal di rumah sakit, khususnya untuk kasus berat.

Tjandra juga menyoroti pentingnya perluasan cakupan dan peningkatan mutu vaksinasi dengue, serta pemanfaatan pendekatan inovatif seperti penggunaan nyamuk Wolbachia. Upaya tersebut perlu dilengkapi dengan respons cepat dan terkoordinasi dalam penanganan wabah ketika kasus meningkat.

“Seluruh langkah ini harus ditopang oleh komitmen politik yang jelas dan berkelanjutan dalam pengendalian dengue,” tegasnya.

Sebagai penutup, Tjandra mengingatkan bahwa Indonesia saat ini masih berada dalam musim hujan, sehingga kewaspadaan terhadap dengue harus terus ditingkatkan di semua lini, baik pemerintah, tenaga kesehatan, maupun masyarakat. (H-4)