Memperkuat Komunikasi Asertif: Kunci Utama Cegah Perundungan pada Anak


Penulis: Basuki Eka Purnama - 24 January 2026, 12:18 WIB
Freepik

KASUS perundungan (bullying) terhadap anak masih menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan dan pola asuh. Menanggapi fenomena ini, psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Saskia Rosita Indasari M.Psi., menekankan pentingnya pembekalan kemampuan komunikasi sebagai langkah preventif bagi anak.

Menurut Saskia, anak-anak harus dibekali dengan kemampuan untuk bersikap asertif. Hal ini bertujuan agar anak mampu menjaga batasan dirinya dalam relasi sosial.

"Bangun keterampilan, kemampuan bicara asertif, berani memperjuangkan atau menyuarakan haknya atau hak orang lain yang ditindas tanpa mengganggu hak orang lain," kata Saskia, dikutip Sabtu (24/1).

Membangun Sistem Pendukung

Selain penguasaan komunikasi asertif, pemahaman mengenai hak dan kewajiban dalam bersosialisasi menjadi fondasi penting. 

Namun, kekuatan individu saja tidak cukup. Saskia mendorong orangtua dan pihak sekolah untuk membantu anak membangun buddy system.

Buddy system atau sistem pertemanan dekat ini berfungsi sebagai jaring pengaman sosial. Dengan memiliki teman dekat, anak memiliki orang yang dapat dipercaya untuk saling melindungi dan memberikan bantuan cepat saat situasi intimidasi terjadi.

Lebih lanjut, kepercayaan diri anak dapat dipupuk melalui aktivitas di luar jam sekolah. Orangtua disarankan melibatkan anak dalam komunitas hobi atau organisasi. Melalui interaksi di kelompok tersebut, anak dapat belajar menyelesaikan masalah secara sehat dan memperluas lingkungan pergaulannya.

Mengenali Gejala dan Perubahan Perilaku

Perundungan sering kali terjadi di area yang luput dari pengawasan orang dewasa. Oleh karena itu, Saskia mengingatkan orangtua untuk peka terhadap indikasi perubahan pada anak. 

Gejala yang paling umum ditemukan adalah perubahan perilaku yang drastis serta penurunan performa akademik di sekolah.

"Untuk menyadari ini, orangtua perlu punya waktu bersama anak, mengamati dan cek kondisi anak setiap hari dan dekat dengan anak," jelasnya.

Komunikasi yang berkualitas antara orangtua dan anak menjadi kunci agar anak merasa aman untuk terbuka. 

Jika komunikasi terjalin baik, anak tidak akan ragu menceritakan pengalaman tidak menyenangkan yang mereka alami, termasuk jika ada teman yang mulai mengganggu.

Kapan Harus ke Psikolog?

Meski dukungan dari rumah dan sekolah sudah diberikan, ada kalanya dampak psikologis perundungan memerlukan penanganan profesional. Saskia menganjurkan orangtua untuk segera mencari bantuan ahli jika anak menunjukkan tanda-tanda trauma yang menetap.

Kondisi yang perlu diwaspadai antara lain jika anak tetap sering murung, terus-menerus mencari alasan untuk tidak masuk sekolah, atau menunjukkan ketakutan yang nyata saat berada di lingkungan sekolah meskipun guru telah turun tangan. 

Dalam kondisi tersebut, konsultasi dengan psikolog menjadi langkah yang sangat dianjurkan untuk memulihkan kesehatan mental anak. (Ant/Z-1)