Ancaman Krisis Energi Global Imbas Perang, IEA: Ekonomi Dunia Berada dalam Bahaya Besar


Penulis: Khoerun Nadif Rahmat - 23 March 2026, 16:41 WIB
Dok. Google Maps

PASAR saham dunia rontok pada Senin (23/3) sementara harga minyak melonjak tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan para pemimpin Iran saling lempar ancaman terkait Selat Hormuz

Situasi kian memanas setelah Israel menyatakan bahwa konflik Timur Tengah dapat berlangsung selama beberapa minggu ke depan.

Memasuki minggu keempat tanpa tanda-tanda deeskalasi, Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan potensi krisis energi global terburuk dalam beberapa dekade.

Ia menegaskan ekonomi dunia berada di bawah "ancaman besar" akibat krisis ini. Para pengamat kini mengkhawatirkan lonjakan inflasi yang dapat memaksa bank sentral menaikkan suku bunga, serta terhentinya pengiriman pupuk yang mengancam ketahanan pangan global.

Ketegangan memuncak setelah Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran pada Sabtu untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi kehancuran infrastruktur energinya.

Melalui Truth Social, Trump mengancam akan "memukul dan melenyapkan" pembangkit listrik Iran, "dimulai dengan yang terbesar terlebih dahulu", jika Teheran tidak membuka jalur air tersebut sepenuhnya hingga Senin pukul 23.44 WIB.

"Hasil dan langkah Trump selanjutnya, terutama dalam hal eskalasi, akan memiliki implikasi signifikan bagi pasar selama sisa minggu ini hingga akhir bulan dan kuartal," tulis Chris Weston dari Pepperstone.

Iran merespons keras dengan memperingatkan bahwa Hormuz "akan ditutup sepenuhnya" jika Trump merealisasikan ancamannya.

Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital di seluruh kawasan secara permanen yang akan menyebabkan harga minyak naik "untuk waktu yang lama".

Laporan ledakan di Teheran mulai bermunculan pada Senin saat Israel mengumumkan gelombang serangan baru. Sementara itu, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga melaporkan adanya serangan terbaru di wilayah mereka.

Militer Israel menyatakan akan memperluas operasi darat di Lebanon melawan Hizbullah, dengan perkiraan pertempuran masih akan berlanjut selama beberapa "minggu" lagi.

Eskalasi ini memukul bursa saham Asia dengan Seoul merosot 6,5 persen dan Tokyo turun 3,5 persen. Harga minyak mentah Brent melonjak di atas 113 dolar AS per barel atau sekitar Rp1,89 juta dan West Texas Intermediate melampaui 100 dolar AS atau sekitar Rp1,69 juta

"Ekonomi global menghadapi ancaman besar hari ini, dan saya sangat berharap masalah ini akan diselesaikan sesegera mungkin," ujar Fatih Birol.

Ia menambahkan, "Tidak ada negara yang akan kebal terhadap dampak krisis ini jika terus berlanjut ke arah ini. Jadi, diperlukan upaya global."

Kenaikan harga minyak ini mulai memicu kekhawatiran inflasi, yang memaksa bank sentral meninjau kembali kebijakan moneter mereka.

Bank Sentral Australia bahkan telah menaikkan suku bunga pada pekan lalu. Proyeksi biaya pinjaman yang lebih tinggi turut menekan harga emas, yang mencatatkan penurunan selama delapan hari berturut-turut ke level sekitar 4.350 dolar AS atau sekitar Rp73,5 juta.  (H-3)