AS Lepas 172 Juta Barel Cadangan Minyak
Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah berani dengan melepas 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis (SPR). Langkah ini merupakan bagian dari aksi kolektif International Energy Agency (IEA) yang secara total akan menggelontorkan 400 juta barel minyak ke pasar global guna meredam lonjakan harga akibat konflik di Timur Tengah.
Kontribusi AS ini mencakup hampir setengah dari total komitmen negara-negara anggota IEA. Departemen Energi AS mengonfirmasi bahwa proses distribusi akan dimulai minggu depan dan diperkirakan memakan waktu sekitar 120 hari untuk tuntas.
Rekor Pelepasan Terbesar dalam Sejarah
Keputusan ini menandai intervensi pasar terbesar sejak IEA didirikan pasca-krisis minyak 1973. Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menyatakan langkah ini adalah respons darurat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Negara-negara IEA telah bulat memutuskan untuk meluncurkan pelepasan stok minyak darurat terbesar dalam sejarah badan kami," ujar Birol. Meski demikian, ia menekankan bahwa solusi permanen bukan sekadar melepas cadangan. "Hal terpenting bagi kembalinya aliran minyak dan gas yang stabil adalah dimulainya kembali transit melalui Selat Hormuz."
Selat Hormuz, yang mengangkut 20% pasokan minyak dunia, saat ini lumpuh total. Volatilitas pasar meningkat tajam setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang berujung pada penutupan jalur vital tersebut.
Strategi Pengisian Kembali Tanpa Beban Pajak
Meski melepas jumlah yang masif, Departemen Energi AS berencana mengisi kembali cadangan tersebut dengan 200 juta barel minyak dalam satu tahun ke depan. Menariknya, pihak otoritas mengklaim proses pengisian ini akan dilakukan "tanpa biaya bagi pembayar pajak," walaupun rincian mekanismenya belum diungkap ke publik.
Hingga 6 Maret lalu, SPR Amerika Serikat tercatat masih menyimpan sekitar 415 juta barel dari total kapasitas 700 juta barel.
Dampak Global dan Respons Negara Lain
Di luar Amerika, negara-negara ekonomi maju lainnya seperti Jepang dan Jerman juga mulai bergerak. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengonfirmasi akan melepas cadangan mulai Senin depan. Sementara itu, Jerman berencana melepas 2,4 juta ton minyak demi menjaga stabilitas domestik.
Namun, beberapa analis tetap bersikap hati-hati. Ipek Ozkardeskaya dari Swissquote Bank menyebut 400 juta barel hanyalah "solusi sementara" mengingat konsumsi harian negara IEA mencapai 45 juta barel. "Timur Tengah saat ini memproduksi minyak 6% lebih sedikit akibat perang," tambahnya.
Krisis ini telah memicu kepanikan di berbagai negara. Bangladesh mulai mengerahkan militer untuk menjaga depot minyak, sementara India dan Yunani memberlakukan kontrol ketat terhadap harga energi untuk melindungi konsumen dari inflasi yang tak terkendali. (BBC/AFP/Z-2)