Pemerintah Dorong Sinergi Tingkatkan Daya Saing Industri Baja


Penulis: Rahmatul Fajri - 12 February 2026, 11:52 WIB
Dok Istimewa

INDUSTRI baja nasional saat ini tengah menghadapi tekanan besar antara lain oversupply yang melanda pasar dunia, harga bahan baku berfluktuasi, dan tekanan produk impor yang terus mengancam pasar domestik.

"Namun di balik tantangan itu, Indonesia memiliki potensi luar biasa," kata Chairman Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) Akbar Djohan pada Musyawarah Nasional (Munas) IISIA 2026, di Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Ia menjelaskan potensi luar biasa dan bisa jadi peluang emas tersebut antara lain proyek infrastruktur yang terus berjalan, hilirisasi yang semakin masif, serta pertumbuhan sektor manufaktur.

"Tanpa fondasi kuat, peningkatan permintaan baja hanya akan menjadi pintu masuk bagi produk luar negeri. Kita berjanji, baja nasional harus berdaulat. Kita harus mandiri, kompetitif, dan jadi tuan rumah yang tangguh di negeri sendiri,” tegas Akbar Djohan.

Untuk itu, kata dia, IISIA menegaskan masa depan baja nasional tidak boleh hanya bergantung pada mekanisme pasar. Diperlukan kehadiran negara melalui kebijakan tegas.

“Masa depan baja nasional ditentukan keberanian negara dalam mengambil pilihan kebijakan. Kita membutuhkan pengelolaan impor ketat, pengendalian investasi pada sektor yang sudah jenuh, penegakan standardisasi SNI yang konsisten, serta perlindungan kapasitas strategis di tengah dinamika perdagangan global,” pungkas Akbar Djohan.

Munas IISIA 2026 bertema Peluang Strategis Industri Baja Indonesia dalam Membangun Kedaulatan Ekosistem Industri Baja Nasional ini jadi forum strategis untuk membahas arah kebijakan, tantangan global, serta langkah konkret dalam memperkuat ekosistem industri baja nasional.

Forum ini juga menghadirkan pidato kunci dari sejumlah tokoh penting, di antaranya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang diwakili Dirjen Pajak Bimo Wijayanto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang diwakili Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Jisman P Hutajulu, Menteri Perindustrian yang diwakili Dirjen Ilmate Setia Darta, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, serta Dewan Pengawas IISIA Silmy Karim.

Turut hadir antara lain Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Saleh Husin yang mewakili Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie. Dalam video sambutannya, Menko Airlangga Hartarto menyatakan industri besi dan baja merupakan tulang punggung perekonomian nasional. 

“Pemerintah terus mendorong sinergi antara pelaku usaha, asosiasi, dan regulator untuk meningkatkan daya saing, memperkuat kapasitas produksi, serta mempercepat transformasi berkelanjutan,” ujarnya.

Adapun pada sesi pidato kunci kedua menghadirkan jajaran wakil menteri dan perwakilan pemerintah yang membahas kebijakan serta arah penguatan industri baja nasional, yaitu Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu, serta perwakilan pelaku industri baja nasional.

Diskusi difokuskan pada isu-isu strategis seperti pengendalian impor dan trade remedies, kebijakan P3DN dan standardisasi, energi dan bahan baku, roadmap industri baja nasional, hilirisasi, serta keberlanjutan lingkungan.

Salah satu poin penting yang dibahas dalam Munas kali ini yaitu penguatan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk seluruh produk baja, termasuk baja impor.

IISIA menekankan semua baja yang beredar di Indonesia, baik produksi local maupun impor, wajib memenuhi SNI sebagai jaminan keamanan, keselamatan, dan kualitas produk. Hal ini krusial untuk melindungi konsumen, memastikan keandalan konstruksi infrastruktur, serta menciptakan persaingan yang adil dan sehat di pasar domestik.

IISIA juga mendorong pemerintah memperkuat pengawasan di perbatasan (border control) dan pascaperbatasan (post-border monitoring) guna memastikan tidak ada produk baja yang tidak memenuhi standar beredar di pasaran.

Pada Munas IISIA 2026 kali ini, juga menetapkan pengurus periode 2026–2030 yakni sebagai Chairman Dr Akbar Djohan, Vice Chairman I Ismail Mandry, Vice Chairman II Tony Taniwan, Vice Chairman III Stephanus Koeswandi, dan beberapa ketua klaster. (H-2)