Safe House Bea Cukai Jadi Sarang Korupsi, Purbaya: Rupanya Serius Ada
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengeklaim telah lama mengetahui keberadaan safe house atau rumah aman yang diduga digunakan para tersangka kasus suap importasi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Berdasarkan keterangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lokasi tersebut diduga dimanfaatkan untuk menyimpan uang tunai hingga emas hasil praktik korupsi.
Informasi mengenai keberadaan safe house itu, menurut Purbaya, telah lama ia terima dari aparat penegak hukum. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Pelantikan Pejabat Kementerian Keuangan di Kantor Kemenkeu, Jumat (6/2).
“Saya pikir sudah lama itu. Saya sudah tahu beberapa tahun lalu ada safe house. Hanya sedikit orang yang tahu. Bukan rahasia umum. Saya tahu karena orang sana telepon saya memberikan informasi,” ujar Purbaya.
Namun, pada saat itu ia belum menilai informasi tersebut sebagai sesuatu yang serius.
“Tapi saya pikir tidak serius, rupanya betul-betul serius ada,” tambahnya.
Menurut Purbaya, keberadaan safe house merupakan pola yang lazim dalam praktik operasi ilegal. Tempat tersebut biasanya digunakan sebagai lokasi berkumpul yang sulit terdeteksi dan hanya dapat diakses oleh pihak-pihak tertentu yang terlibat.
“Kalau operasi gelap pasti ada safe house-nya. Tempat di mana mereka bisa berkumpul tidak terdeteksi siapa pun. Biasanya handphone juga tidak boleh masuk. Tempat seperti itu selalu ada dan hanya pejabat yang terlibat yang bisa masuk,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa Kementerian Keuangan menghadapi tantangan yang sangat kompleks sehingga membutuhkan organisasi dan sumber daya manusia yang selalu dalam kondisi prima. Purbaya juga mengapresiasi jajaran pegawai yang selama ini bekerja dengan dedikasi dan integritas.
“Kemenkeu membutuhkan orang yang siap memberikan seluruh pikiran serta jiwa raga untuk bangsa dan negara,” ujarnya.
Meski demikian, Purbaya mengakui masih terdapat oknum pegawai yang belum menjalankan tugas secara lurus. Hal itu, menurut dia, tercermin dari rangkaian penggeledahan yang dilakukan KPK di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan DJBC dalam beberapa hari terakhir.
“Beberapa hari terakhir ini kita lihat ada penggeledahan ke pajak dan bea cukai oleh KPK. Artinya ada sementara pegawai-pegawai kita yang belum menjalankan pekerjaannya dengan baik dan lurus,” katanya.
Ia juga menyinggung temuan uang dan emas dalam kasus tersebut sebagai indikasi bahwa institusinya masih belum sepenuhnya bersih.
“Artinya masih ada. Kayaknya ada terima uang, ada safe house katanya, ada uang sekian, ada emas tiga kilo dan lain-lain. Artinya kita masih belum bersih,” ujar Purbaya.
Ke depan, Purbaya berharap rotasi pejabat yang dilakukan dapat menjadi momentum untuk memperbaiki citra dan integritas, baik di lingkungan Bea dan Cukai maupun Direktorat Jenderal Pajak.
“Ke depan saya harapkan dengan adanya rotasi ini semua teman-teman bisa memperbaiki imej Bea Cukai maupun Pajak,” pungkasnya. (Ins/I-1)