Opini

Harga Cabai dan Nasib Petani

Rabu, 11 January 2017 00:15 WIB Penulis: Bagong Suyanto Dosen Mata Kuliah Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial Program Pascasarjana Ilmu Sosial FISIP Universitas Airlangga

ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma

RASA pedas cabai rawit merah tidak hanya terasa di lidah, tetapi juga mengoyak kantong masyarakat yang menyukai makanan dan rasa pedas. Di pasaran, harga cabai rawit dilaporkan rata-rata Rp140 ribu per kilogram. Di sejumlah daerah, seperti Samarinda, harga cabai bahkan dilaporkan sempat melambung tinggi hingga Rp250 ribu per kilogram. Kenaikan harga cabai hingga sepuluh kali lipat dari kondisi normal itu wajar jika kemudian mengejutkan banyak pihak. Bisa dibayangkan, jika dalam kondisi normal menjual cabai dengan harga Rp40 ribu per kilogram saja nyaris mustahil, dalam beberapa hari terakhir tiba-tiba harga cabai melonjak hingga Rp200 ribu lebih per kilogram. Di mana letak kesalahan yang terjadi?

Bagi negara agraris beriklim topis seperti Indonesia dengan hanya bermodal sedikit tanah di pot dan benih cabai kering saja semua rumah tangga bisa menanam cabai sendiri kenaikan harga cabai yang luar bisa tinggi seperti terjadi belakangan ini sesungguhnya merupakan sebuah ironi. Dikatakan ironi karena dari sisi produksi, konon katanya ketersediaan cabai sebetulnya tidak ada masalah. Persoalannya ialah pada sisi pengaturan distribusi dan kemungkinan adanya sejumlah pihak yang mencoba memainkan harga cabai di pasaran.

Efek anomali cuaca dan La Nina yang membuat curah hujan berkepanjangan, untuk sebagian mungkin benar telah membuat produksi cabai di sejumlah daerah sentra produksi cabai seperti di Jawa Timur dan Jawa Barat agak menurun. Akan tetapi, apakah benar hanya karena curah hujan yang berkepanjangan lantas produksi cabai menjadi langka hingga harganya kemudian melambung luar biasa tinggi? Benarkah persoalan kenaikan harga cabai semata hanya karena faktor alam?

Manajemen distribusi
Kasus harga cabai yang melambung tinggi di luar nalar sesungguhnya bukan fenomena ekonomi-pasar yang sekali-dua kali terjadi. Kenaikan berbagai komoditas pertanian yang tidak masuk akal boleh dikata telah berkali-kali dan puluhan tahun terjadi terulang-ulang. Hal yang memprihatinkan ialah kenapa pemerintah yang telah berkali-kali menghadapi situasi seperti ini seolah bebal atau sama sekali tidak bisa memprediksi kemungkinan terjadinya kasus serupa?

Jika benar curah hujan berkepanjangan yang membuat cabai langka hingga harganya naik drastis, bukankah pemerintah dengan mudah bisa segera mengatasinya dengan melakukan manajemen pengaturan distribusi produksi? Di daerah yang sedang terkena dampak La Nina, produksi cabai yang turun tentu akan bisa diganti dari daerah lain yang memiliki produksi cabai yang tinggi.

Katakanlah total kebutuhan cabai di seluruh Indonesia di 2017 tidak berubah, yakni sekitar 150 ribu ton per harinya seperti 2016. Dengan memiliki peta yang jelas dan rincian kapasitas produksi di berbagai daerah sentra produksi cabai, pemerintah dengan mudah akan bisa mengatur distribusi silang antardaerah. Jika sebuah daerah kekurangan produksi cabai, daerah lain yang membutuhkan dengan cepat bisa diambilkan dari daerah yang surplus cabai.

Selain itu, dengan mengetahui terlebih dahulu bahwa di bulan-bulan curah hujan tinggi--seperti November hingga Maret--mungkin produksi cabai menurun, pemerintah tentu bisa menutupi kekurangan itu dengan langkah membuat terobosan mendorong dan memfasilitasi petani agar dapat menanam cabai di luar musim dengan dukungan pompa air dan irigasi, khususnya di daerah-daerah yang masyarakatnya merupakan segmen konsumen terbesar cabai seperti wilayah Jabodetabek dan Jawa Timur. Pendek kata, dengan pemetaan dan manajemen distribusi yang baik, di atas kertas persoalan kelangkaan produksi dan kenaikan harga cabai yang menggila tidak akan terjadi atau minimal bisa dikurangi.

Nasib petani
Di luar persoalan manajemen distribusi dan menjamin pasokan produksi cabai, persoalan yang acap kali diabaikan ialah bagaimana nasib petani dalam fluktuasi harga komoditas yang mereka hasilkan? Pertanyaan ini penting untuk dijawab, sebab selama ini meskipun harga berbagai komoditas yang dihasilkan petani naik luar biasa tinggi, ternyata di tingkat petani harga jual produk pertanian mereka tetap saja bergeming.
Di pasaran, harga cabai yang melambung hingga Rp140 ribu bahkan Rp250 ribu ternyata harga yang dipatok tengkulak yang membeli cabai dari para petani hanya sekitar Rp20 ribu-Rp30 ribu--jauh dari harga pasar yang mereka lihat di televisi atau diberitakan di berbagai media massa. Di berbagai wilayah perdesaan, sudah bukan rahasia lagi bahwa petani selalu menjadi pihak yang tidak berdaya melakukan tawar-menawar apalagi menolak harga yang ditentukan para tengkulak.

Berbeda dengan para spekulan dan tengkulak yang kerap kali bisa memainkan harga, mengatur pasokan cabai, dan memaksa petani mau menerima harga jual komoditas di tingkat yang terendah, sebagai produsen utama yang menghasilkan cabai atau komoditas pertanian lain, petani justru kerap kali memperoleh pembagian margin keuntungan yang paling tipis. Padahal, semua risiko yang mungkin terjadi, mulai gagal panen karena serangan hama atau karena anomali cuaca, selama ini selalu menjadi tanggungan petani.

Bagi para tengkulak, yang penting ialah bagaimana mereka dapat memperoleh komoditas kualitas terbaik dari petani dengan harga yang serendah-rendahnya. Sama seperti petani tembakau, petani bawang, atau petani lain yang belakangan ini nasib mereka juga kian tidak menentu karena anomali cuaca, petani cabai rawit tampaknya tidak memiliki kesempatan yang sama menikmati kenaikan harga cabai di pasaran karena posisi bargaining yang lemah. Para petani yang sebagian meminjam modal dari tengkulak atau pedagang perantara biasanya tidak bisa berbuat apa-apa karena adanya ketergantungan yang sengaja dikonstruksi para tengkulak untuk menekan petani.

Di saat produksi melimpah dan terjadi overstock, para petani pasti menjadi pihak pertama yang paling menderita karena harus menanggung kerugian terbesar akibat terjadinya penurunan harga komoditas pertanian. Sementara itu, ketika harga komoditas pertanian membaik, para petani biasanya tidak akan ikut kecipratan menikmati kenaikan harga yang terjadi di pasaran karena pihak yang mengambil keuntungan niscaya adalah para tengkulak dan pedagang perantara yang selama ini menguasai permainan harga dan pasar. Untuk memastikan agar tidak lagi terjadi gejolak harga komoditas pertanian seperti cabai rawit di samping pengaturan distribusi yang lebih baik, yang tidak kalah penting ialah bagaimana membatasi ruang gerak para spekulan dan tengkulak agar mereka tidak mendominasi pasar.

Komentar