Tifa

Menjaga Bara Seniman Muda

Ahad, 11 December 2016 08:26 WIB Penulis: Irana Shalindra

Para peserta program Pegiat Budaya 2016 berkolaborasi dengan musikus tradisional Maori, Jerome Kavanagh (kedua dari kiri), pada saat Indonesia Culture Performance Night, Senin (28/11), di kompleks AUT, Auckland, Selandia Baru. -- MI/Irana Shalindra

ENAM pria menggeruduk masuk ke panggung. Di atas panggung sepanjang kurang lebih 5 meter itu, mereka lantas berjajar.

Warna-warni kostum tari tradisio­nal Nusantara yang mereka kenakan, di mata saya tampak kontras dengan hitamnya panggung.

Ringa pakia e! Seiring dengan aba-aba dalam bahasa Maori itu, mereka memukulkan tangan ke paha masing-masing.

Waewae takahia! Sambil tetap memukulkan tangan, kaki mereka kini ikut menghentak panggung.
Ahi! Ka tau! Sambil tengadah, mereka mengangkat tinggi tangan-tangan yang terkepal. Ahi!.

Sekitar 2 menit mereka melakoni Haka, tari khas suku Maori, suku asli Selandia Baru. Membuka malam yang menjadi pamungkas Program Pegiat Budaya 2016 selama tiga pekan di ‘Negeri Kiwi’.

Malam itu, Senin (28/11), bukan hanya para penari yang unjuk muka.Peserta-peserta program Pegiat Budaya dari disiplin lain, seperti film, teater, musik, seni visual-kurator, museum-galeri, serta arsiparis-historian, ikut menyemarakkan Nga Wai o Horotiu marae, balai pertemuan sakral suku Maori, yang ada di kompleks Auckland University of Technology (AUT), Selandia Baru.

Berlatar belakang panggung film yang disisipi sketsa-sketsa kelompok perupa, para pegiat budaya beraksi mempertontonkan kepada khalayak Selandia Baru, ragam seni budaya di Tanah Air, lewat Indonesia Culture Performance Night.

Kelompok teater umpama tampil mencekam dalam balutan Jakarta Soundscape Symphony dari Iman Fattah. Dengan pentas Soliloquy, mereka mengusik kami, penonton. Mengajak untuk mempertanyakan jati diri, pencarian identitas di tengah multikultur warga dunia dewasa ini.

Di penghujung malam, kelompok musik membuat suasana kian intens. Berkawan alat-alat musik khas Nusantara, macam tifa, fuu, canang, atau sekasas, musik etnik yang mereka usung, membawa saya serasa dalam suatu ritual. Apalagi, penari Darlane Litaay kemudian beraksi meliuk-liukkan tubuh bak sedang kerasukan di antara totem-totem Maori.

.“I love it!” Itu satu kalimat yang dilontarkan Mika Haka, performer kenamaan Selandia Baru, seusai menonton aksi para Pegiat Budaya 2016. Ia mengagumi penampilan mereka yang disebutnya seolah tidak berusaha untuk menyenangkan penonton. “Saya sangat bersemangat. Saya ingin melihat seni tradisi, saya ingin melihat kontemporer. Saya ingin dibuat bingung,” serunya lagi.

Bara
Empat puluh sembilan pelaku seni budaya yang diboyong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI ke Selandia Baru memang bukan sembarang orang. Mereka terpilih lewat seleksi terbuka, dari kurang lebih 1.300 pendaftar. Jadi, walau mayoritas berusia di kisaran 20 tahunan, mereka bukan pemula. Satu per satu memiliki bara, gairah terhadap bidang yang ditekuni masing-masing.

.Itu tecermin dari antusiasme mereka selama tiga pekan di Aotearoa, sebutan suku Maori terhadap Selandia Baru. Selama kurun 15 November-3 Desember 2016, para Pegiat Budaya disibukkan serangkaian kegiatan, mulai ala kuliah di kelas, mentoring dan workshop dengan pelaku seni budaya setempat, sampai pergelaran seni. Ragam kegiatan yang juga difasilitasi AUT tersebut, menurut Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, bukan sekadar untuk memoles kapasitas para peserta, melainkan juga meng­utus mereka sebagai representasi Indonesia. “Peserta program akan menjadi duta-duta bangsa Indonesia,” kata Hilmar dalam sambutan tertulisnya ketika praorientasi ­program di Jakarta, November lalu.

Kedatangan mereka, kendati di tengah suasana libur panas yang membuat kampus-kampus sepi, memang sepatutnya memperluas khazanah publik Selandia Baru. Minimal bagi mereka yang mengenal Indonesia sebatas Bali. “Hubung­an antarpemerintah atau bisnis itu terbatas. Hubungan antarpersonallah yang lebih krusial,” ujar Alister Lawrence, Honorary Consul for the Republic of Indonesia.

Gading
Tiga pekan menimba ilmu, sebagian pegiat budaya mengaku kembali ke Tanah Air dengan inspirasi. Arsiparis Musliichah mengatakan siap mempraktikkan program oral history yang lazim diterapkan di Selandia Baru guna penyelamatan informasi.

“Untuk itu, saya bisa manfaatkan ponsel, lakukan wawancara kemudian didokumentasikan. Apalagi kalau bisa dimasukkan buku atau dibuat digital sesuai tren sekarang,” terangnya.

Namun, tiada gading yang tak retak. Kesempurnaan adalah hal yang kerap muskil didapat. Begitu pun dalam program perdana Pegiat Budaya ini.

Tidak sedikit pelaku yang pada awal program mempertanyakan perolehan materi, merasa itu terlampau ‘awam’ untuk kompetensi yang sudah mereka miliki atau kurang sesuai dengan kebutuhan yang perlu diisi.

Andi Hutagalung, dari kelompok film Umpama, menilai soal teknis perfilman, materi yang didapat tidak berbeda dengan hal yang sudah dilakukannya di Sumatra Utara.

Sementara itu, Mahatma Muhammad dari kelompok teater, berpendapat kebanyakan wawasan yang didapatnya lebih cocok untuk pengelola wadah kesenian ketimbang praktisi seni itu sendiri.

Walakin, mereka mengamini mereka kembali ke Tanah Air bukan tanpa ilmu. Paling tidak, keduanya jadi terinspirasi untuk membantu membenahi manajemen berkesenian di komunitas masing-masing, menjaga bara yang ada.

Itu, seperti diutarakan komponis Gema Swaratyagita, “Dengan kepentingan yang berbeda-beda, tidak mungkin mendapat semua ekspektasi kita. Tapi pasti ada nilai yang kita dapat. Walau cuma 10%-20%, itu bernilai.” (M-2)

Komentar