Seni

Menggeliatkan Lagi Gairah Seni di Balai Budaya

Selasa, 8 November 2016 21:10 WIB Penulis: Abdillah Marzuqi

Ist

SEJAK 14 April 1954, Balai Budaya telah melahirkan dan menumbuhkan banyak para tokoh seniman, pemikir, dan budayawan. Sebut saja W.S Rendra, S. Sudjojono, Affandi, Hendra Gunawan, Nashar, Mochtar Lubis, Asrul Sani, Misbach JB, Umar Kayam, Taufiq Ismail, Soe Hok Djien, Kusnadi, HB Jassin, Zaini, dan Soedjatmoko.

Bangunan yang terletak di Jl Gereja Theresia, Menteng Jakarta Pusat itu, telah memberikan inspirasi bagi lembaga-lembaga kesenian seperti badan pembina kebudayaan yang kini dikenai dengan nama Dewan Kesenian Jakarta atau DKJ, Institut Kesenian Jakarta, Akademi Jakarta, dan Pusat Kesenian Jakarta.

Setidaknya, itulah yang dapat ditangkap dari paparan sejarawan Nunus Supardi kala menjadi pembicara dalam Membaca Kembali Balai Budaya di Balai Budaya, Jakarta (7/11). Nunus tidak sendiri dalam diskusi itu, masih ada Itet Sumaryanto dan Cak Kandar yang hadir sebagai pembicara. Itet Sumaryanto sebagai representasi dari masyarakat sekitar. Cak Kandar mewakili pengurus Balai Budaya. Diskusi itu dimoderatori oleh Aisul Yanto.

Nunus juga sempat menggambarkan bagaimana para seniman Indonesia dahulu beraktivitas di Balai Budaya. Mereka punya keterikatan kuat terhadap Balai Budaya. Semisal pelukis Nasar yang hanya tidur dengan alas koran di Balai Budaya. Atau bahkan Affandi.

"Kita baru tahu bahwa Affandi dan Bu Affandi pernah tidur di sini, gelar tikar," ujar Nunus.

Namun itu dulu. Tidak ada yang tersisa dari masa keemasannya. Beberapa dasawarsa belakangan, Balai Budaya tak terdengar lagi namanya. Nyaris tidak ada kegiatan pameran seni rupa, pementasan kesenian atau hanya sekadar menjadi tempat diskusi antar insan seni.

Beberapa tahun terakhir, Balai Budaya mulai bangkit. Setidaknya, napas seni mulai berhembus. Adanya banyak kegiatan seperti diskusi, pameran, dan pementasan. Bahkan, dalam waktu dekat Balai Budaya bakal mengelar sayembara melukis dengan tema revolusi mental. Sayembara ini merupakan sayembara perdana yang diadakan oleh Balai Budaya sekaligus menjadi momentum kebangkitan lembaga kesesian ini.

"Latar belakang diadakan acara ini adalah untuk mempertahankan Balai Budaya sebagai suatu medium yang memiliki nilai historikal yang tinggi, yang perlu mendapatkan perhatian yang besar baik dari Pemerintah, masyarakat maupun media sebagai suatu wadah dan platform bagi para seniman untuk berkarya, berdiskusi, berbagi pengalaman maupun bersosialisasi. Harapan kami bahwa acara ini akan menjadi agenda rutin yang diselenggarakan setiap tahun" terang Ketua Umum Sayembara Melukis Itet Tridjajati Sumarijanto.

Rencananya sayembara melukis ini diadakan pada Maret 2017 mendatang dan para pengurus Balai Budaya sangat mengharapkan partisipasi dari para masyarakat. OL-2

Komentar