BIDASAN BAHASA

Menghadapi Kalimat Partisipial

Ahad, 6 August 2017 01:31 WIB Penulis: Riko Alfonso/Staf Bahasa Media Indonesia

Wikipedia

Kekeliruan berbahasa tidak saja disebabkan kekurangtahuan pengguna bahasa, tetapi bisa juga akibat pengaruh bahasa asing yang lebih sering menyentuh kehidupan pemakai bahasa sehingga tanpa disadari, struktur bahasa asing itu akhirnya memengaruhi bahasa si pemakai sehari-hari.

Seperti akhir-akhir ini, sering muncul bentuk kalimat yang diawali dengan verba (kata kerja) , baik dalam percakapan sehari-hari maupun dalam teks yang termuat di media surat kabar dan media elektronik. Ternyata, struktur kalimat yang diawali dengan verba itu tidak ada dalam tata bahasa baku bahasa Indonesia. Masalahnya, masyarakat kita pada umumnya seperti sudah terbiasa dengan bentuk kekeliruan tersebut sehingga tidak terlalu mempermasalahkannya.

Mari kita lihat dua bentuk kalimat ini. Pertama, ‘Diperiksa polisi, Firza menggunakan penutup wajah’. Kemudian yang kedua, ‘Tertawa saat sidang Ahok, saksi dari polisi ditegur hakim’.

Kedua contoh kalimat ini memiliki persamaan, yakni merupakan kalimat majemuk bertingkat. Dalam kalimat majemuk bertingkat, terdapat induk kalimat dan anak kalimat. Induk kalimat ditandai dengan kemampuan kalimat tersebut berdiri sendiri sebagai kalimat lepas. Pada dua kalimat di atas, yang merupakan induk kalimat ialah ‘Firza menggunakan penutup wajah’, dan ‘saksi dari polisi ditegur hakim’.

Sebaliknya, anak kalimat tidak bisa berdiri sendiri sebagai kalimat lepas dan biasanya didahului dengan konjungsi sebagai penanda anak kalimat. Akan tetapi, dalam dua kalimat tersebut, tidak ditemui konjungsi di depan anak kalimatnya. Yang ada malah bentuk frasa verba, karena intinya berupa verba, yakni diperiksa dan tertawa.

Permasalahan terjadi karena dalam struktur bahasa Indonesia verba biasanya berfungsi sebagai predikat dalam sebuah kalimat. Dalam dua kalimat tadi, terdapat verba di anak kalimat. Berarti anak kalimat menduduki fungsi predikat. Padahal, dalam struktur bahasa Indonesia, anak kalimat tidak dapat berfungsi sebagai predikat. Anak kalimat biasanya menduduki fungsi sebagai keterangan subjek, objek, atau pelengkap. Lalu bagaimana itu bisa terjadi?

Rupanya kedua kalimat ini terpengaruh bentuk kalimat partisipial bahasa Inggris (present participle). Coba bandingkan dengan kalimat present participle berikut ini. ‘Watching television seriously, he didn’t realize someone come to his house’. Tampak anak kalimat dalam kalimat itu juga terdapat verba, yakni watching. dalam bahasa Inggris, pola kalimat yang diawali dengan verba memang ada. Akan tetapi, menjadi masalah jika pola tersebut digunakan dalam struktur kalimat majemuk bertingkat bahasa Indonesia. Sebab, pertama, verba tidak diizinkan mendahului induk kalimat. Kedua, karena anak kalimat hanya berfungsi sebagai keterangan, verba yang terdapat di dalam anak kalimat harus tetap didahului konjungsi sebagai penanda anak kalimat.

Agar dapat menjadi kalimat yang sesuai dengan struktur bahasa Indonesia, dua kalimat di atas haruslah dibentuk sesuai dengan pola kalimat majemuk bertingkat yang sebenarnya. Konjungsi yang berfungsi sebagai penanda anak kalimat harus ditempatkan di depan anak kalimat dan tidak boleh dilesapkan. Untuk dua kalimat di atas, konjungsi yang tepat dipakai ialah saat dan karena.

‘Saat diperiksa polisi, Firza menggunakan penutup wajah’. ‘Karena tertawa saat sidang Ahok, saksi dari polisi ditegur hakim’. Demikianlah, dua kalimat ini baru menjadi benar secara struktur bahasa Indonesia.

Komentar