BIDASAN BAHASA

Hanya Saja

Sabtu, 22 July 2017 23:46 WIB Penulis: Meirisa Isnaeni/Staf Bahasa Media Indonesia

Wikipedia

BERBAHASA, baik secara lisan maupun tulisan, seharusnya mengutamakan kehematan agar komunikasi lebih efektif. Bila itu dilakukan, tentu saja tidak ada kata yang sia-sia dan terkesan bertele-tele. Salah satu ciri penggunaan bahasa yang efektif ialah pemakaian kalimat yang hemat, tetapi padat isi.

Namun, faktanya tidak demikian. Kita masih dapat melihat banyaknya penggunaan kata yang tidak efektif (boros). Kata-kata boros ini menjadi berlebihan dan mubazir karena jika dihilangkan pun tidak akan mengubah informasi yang ingin disampaikan.

Ada banyak jenis pemborosan kata yang dapat ditemukan. Misalnya, Setiap akhir pekan, kakak naik ke atas puncak gunung. Kalimat itu tidak perlu memakai kata ke atas karena sudah ada kata naik yang berarti ‘bergerak ke atas atau ke tempat yang lebih tinggi’. Selanjutnya, Mobil yang ditumpangi tetanggaku nyaris turun ke bawah jurang. Kalimat itu tidak perlu menggunakan kata ke bawah setelah kata turun sebab turun sudah berarti ‘bergerak ke arah bawah; bergerak ke tempat yang lebih rendah daripada tempat semula’.

Pada judul berita pun banyak ditemui kalimat tidak efektif, contohnya pada kata hanya saja. Misalnya, Diperbarui, Line Today tak hanya Sajikan Berita Saja (Kompas.com, Jumat [16/6]), Menkominfo: Virus WannaCry hanya Serang RS Dharmais Saja (Detik.com, Senin [15/5]), Bawaslu Sayangkan jika Pilkada Serentak hanya Bertemu di DKI Saja (Merdeka.com, Kamis [9/2]), dan Hadi Poernomo hanya Terima Keberatan Pajak BCA Saja (Antara.com, Senin [21/4/2014]).

Pada judul berita tersebut, hanya dan saja tidak perlu digunakan secara bersamaan, tetapi cukup satu yang dipakai. Alasannya hanya dan saja merupakan dua kata yang memiliki kesamaan arti atau masih memiliki relasi arti yang sama meski bentuknya berbeda. Dalam KBBI, hanya bermakna ‘cuma’, pun dengan saja yang mempunyai arti ‘melulu (tiada lain hanya; semata-mata)’.

Masih banyak ditemui pemborosan kata lain. Contohnya, Sejak dari usia 10 tahun ia telah ditinggalkan ayahnya. Kata sejak dari pada kalimat itu dapat dihemat dengan hanya menulis sejak atau dari. Contoh selanjutnya, Makan dan tidur harus teratur agar supaya tubuh tetap sehat. Dalam KBBI, agar berarti ‘kata penghubung untuk menandai harapan’, begitu pula kata supaya. Karena memiliki fungsi yang sama, seharusnya satu kata saja yang digunakan, yaitu agar atau supaya.

Kasus serupa juga terjadi pada penggunaan adalah dan merupakan yang bersamaan. Misalnya, Hidrosefalus adalah merupakan penumpukan cairan pada rongga otak atau yang disebut dengan ventrikel. Seharusnya salah satu kata itu yang harus dipakai, bukan kedua-duanya. Jadi, pada kalimat tersebut, kata yang digunakan hanya adalah atau merupakan.

Contoh lain yang sering muncul ialah stigma negatif seperti pada kalimat Dia mendapat stigma negatif karena sering jarang masuk sekolah. Dalam KBBI, kata stigma memiliki arti ‘ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkung­annya; tanda’. Dengan demikian, penggunaan kata negatif setelah kata stigma merupakan sebuah pemborosan kata karena stigma sudah mengandung arti negatif.

Setelah mengetahui adanya penulisan kata atau kelompok kata yang benar, tentunya kita bisa lebih memperhatikan penyusunan kalimat efektif. Pemborosan kata tidak perlu terjadi agar komunikasi benar-benar efektif. Cermatlah dalam menulis agar kita dapat menghemat kata. Ingat, jangan boros dalam berbahasa.

Komentar