Humaniora

Metro TV Jadi Korban 'Web Phising'

Kamis, 20 April 2017 17:08 WIB Penulis: Agus Utantoro

Dok. Istimewa

BERTEPATAN dengan pilkada DKI Jakarta putaran kedua, kemarin, selain muncul isu serangan fajar berupa pembagian sembako, uang dan sebagainya, juga terjadi serangan fajar dalam bentuk penyebaran konten negatif yang bertujuan membangun opini buruk kepada salah satu pasangan calon gubernur-wakil gubernur.

“Diantara sekian banyak konten negatif tersebut salah satunya adalah konten dengan judul sebagai berikut : ”Sri Sultan Hamengkubuwono : Maaf Bukan SARA, Tapi Cina dan Keturunannya Tidak Pantas Jadi Pemimpin Di Bumi Nusantara. Fakta Sejarah, Tionghoa adalah Satu-Satunya Penghianat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata pakar Forensika Digital Universitas Islam Indonesia (UII), Yudi Prayudi, Kamis (20/4).

Konten tersebut, lanjutnya, merujuk pada link berita http://www.metronews.tk/2017/04/sri-sultan-hamengkubuwono-maaf-bukan.html. “Konten berita tersebut mulai menyebar secara masif pada pagi hari terutama melalui berbagai grup WA serta tweet dari beberapa akun twitter,” jelas Kepala Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) UII itu.

Ia menegaskan, berita tersebut diposting dari sebuah laman yang patut diduga adalah website palsu. “Bandingkan antara nama domain http://www.metrotvnews.com/ sebagai salah satu portal berita resmi dengan http://www.metronews.tk sebagai website palsu dengan nama yang mirip,” katanya.

Ia menyebutkan, teknik semacam ini dikenal dengan nama phising yaitu mengelabui pengguna dengan website yang mirip dengan tujuan mendapatkan data-data si pengguna tersebut.

Lebih lanjut dia mengatakan, dalam kasus metronews tersebut web phising digunakan untuk mengelabui seolah-olah bahwa berita yang ditampilkan adalah berita resmi.

Lebih lanjut Yudi mengemukakan, top level domain dot tk pada http://www.metronews.tk adalah domain yang sifatnya gratisan,siapapun dapat dengan mudah mendaftarkan domain pada top level domain dot tk.

Ia kemudian menyebut data, domain dot tk adalah merupakan sebuah domain yang merujuk pada Pemerintah Tokelau, yaitu salah satu kepulauan di wilayah Pasifik Selatan. “Untuk mendapatkan nama domain maka seseorang cukup melakukan registrasi di alamat berikut ini: www.dot.tk itu saja,” jelasnya.

Menurut Yudi teknik yang digunakan adalah melakukan forward domain, bila dilihat dari logo website-nya, maka terlihat bahwa website aslinya sebenarnya adalah sebuah blog yang buat dengan engine Blogspot.

Domain http://www.metronews.tk, ujarnya, digunakan sebagai alamat awal namun kemudian akan di redirect ke salah satu alamat blog pada blogspot. “Apa alamat Blogspotnya dan atas nama siapa blog ini masih perlu didalami lebih lanjut,” tegasnya.

Dikatakan, konten yang diunggah pada alamat website http://www.metronews.tk/2017/04/sri- sultan-hamengkubuwono-maaf-bukan.html. ditulis oleh seseorang dengan identitas Rosa Linda pada tanggal 17 April 2017 dengan waktu unggah ke website adalah pada jam 20:45.

Bila dicermati dengan seksama, tambahnya, maka konten pada website ini memiliki kemiripan dengan konten lain yang diposting pada alamat http://www.teropongsenayan.com/50868-ini-alasan-warga-tionghoa-tak-boleh-punya-hak-milik-tanah-di-yogyakarta

Posting pada website diatas ditulis oleh seseorang dengan identitas Ferdiansyah pada hari Minggu 30 Okt 2016 - jam 06:27:09 WIB. Berdasarkan check kemiripin konten, lanjut Yudi, maka didapat angka 76% kemiripan. Konten yang ditulis oleh Ferdiansyah ini sebenarnya menyampaikan pendapat dari seseorang yang bernama Salim A Fillah tentang mengapa warga Tionghoa tak mempunyai hak milik bangunan di daerah Yogyakarta.

Dalam ceritanya tersebut terungkaplah tentang kisah mengapa Sultan Hamengku Buwono IX mencabut hak kepemilikan tanah di Yogyakarta untuk kaum Tionghoa. Terlepas dari bagaimana fakta sejarahnya, jelasnya, namun dalam konteks berita tersebut sebenarnya konten tersebut sifatnya adalah pendapat pribadi dari Salim A Fillah.

“Tulisan asli yang diunggah oleh Ferdiansyah ini berjumlah 419 kata sementara tulisan yang diunggah Rosa Linda hanya berjumlah 191 kata. Namun kemiripan dengan tulisan asli dari Ferdiansyah mencapai angka 76 persen,” tegasnya.

Ia menambahkan lagi, permasalahan hoax muncul karena konten yang ditulis oleh Rosa Linda tersebut menggunakan gaya bahasa seolah-olah Sri Sultan Hamengku Buwono X sendiri yang menyampaikan pendapatnya tersebut, hal ini didukung dengan ilustrasi yang memuat Sri Sultan HB X sedang diwawancara langsung oleh sejumlah media.

Tentunya hal ini akan ditangkap langsung oleh pembaca bahwa Sri Sultan HB X menyampaikan pendapatnya sendiri tentang permasalahan etnis tertentu. Sebenarnya, katanya, dalam tulisan tersebut tidak termuat kalimat yang secara eksplisit menunjukan pendapat dari Sri Sultan HB X, yang termuat adalah Sri Sultan Hamangkubuwono serta Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Namun dengan image yang ditampilkan adalah foto dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, maka persepsi membaca akan mengarah pada personal Sri Sultan HB X sebagai individu yang sedang menyatakan pendapatnya.

Menurut Yudi sisi pelanggaran UU, apa yang dilakukan oleh seseorang beridentitas Rosa

Linda sebagai pihak yang menulis konten pada website dapat dikenakan pelanggaran sesuai dengan UU 11 tahun 2008 Pasal 28 baik ayat 1 maupun ayat 2, yaitu terkait dengan penyebaran berita bohong dan menyesatkan serta penyebaran informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).

“Siapa sebenarnya pemilik akun atas nama Rosa Linda, penelusuran singkat mengarahkan bahwa akun tersebut terdaftar pula dalam profil Google+ dengan nama rosa linda, namun pendalaman lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui informasi yang berkaitan dengan pemilik akun tersebut,” ujarnya. (OL-3)

Komentar