Travelista

Hutan, Hiburan dan Penghidupan

Ahad, 9 April 2017 05:01 WIB Penulis: DD/M-1

MI/Dede Susianti

Pengembangan wisata alam di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kini sedang digiatkan Perhutani, berkolaborasi dengan Perhutani dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud).

"Kami sedang mengembangkan Curug Cilember, Citamiyang, Lewi Hejo, Curug Kencana, Sentul Eco Edu Forest yang bekerjasama dengan Jepang serta Cipamingkis yang pengembangannya sangat pesat. Di Cipamingkis bahkan akan dibuat wahana edukasi ekologi bertaraf internasional. Hanya kami membutuhkan investor karena tidak sedikit lokasi Perhutani berpotensi wisata," kata Maulana, Humas Perhutani.

Pengunjung riang, penduduk senang

Iyus Rusliana, Asisten Perhutani (Asper) Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ciawi mengungkapkan, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) sebagai pengelola area hutan telah eksis di beberapa destinasi.

LMDH Cipamingkis Puncak Mandiri, misalnya, beranggotakan semua elemen desa, termasuk kades, tokoh, pemuda dan karang taruna.

Kontribusi yang juga bisa dinikmati masyarakat, salah satunya dari parkir. "Proteksi tata batas itu rutin setiap tiga bulan. Ada hilang, pindah, bergeser dan menyempit. Dan 10 tahun sekali penataan ulang dengan teknologi dari pusat dengan pemetaan," jelas Iyus.

"Hutan produksi yang difungsikan untuk perlindungan. Perlakuan kami juga mirip dengan hutan lindung. Kami tidak menutup mata, konflik teritorial itu muncul. Makanya kami kemas, kami bentuk kelompok tani hutan. Dan juga adanya LMDH ini untuk menjaga hutan melalui objek wisata.

"Hasan,30, warga yang kini ikut mengelola objek wisata sekaligus jadi bendahara parkir di area itu menyebutkan, banyak masyarakat desa kini menggantungkan hidupnya dari kinerja LMDH. "Saya pribadi kalau sebelumnya tani paling besar Rp 20 ribu per hari. Sekarang ada tambahanlah. Sebulan sekarang bida Rp1,6 juta atau kadang-kadang di atas Rp2 juta," ungkap Hasan.

Desa wisata, dihidupkan, diberdayakan

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bogor Rahmat Sujana mengatakan, selain menggandeng Perhutani, model pengembangan pariwisata di Kabupaten Bogor adalah dengan membentuk desa wisata. Hingga saat ini sudah ada 33 desa wisata.

"Pemilihan 33 desa wisata itu tidak boleh dibentuk oleh kita, tapi oleh masyarakat atau warga desa itu sendiri. Harus keinginan masyarakatnya sendiri. Kalau mau membentuk, kita bantu aspek manajemen, sarana fisik dan lain-lain. Jangan kita yang bentuk," ungkap Rahmat.

"Ajukan programnya apa. Pasti bantuan itu ada. Dan dengan pembentukan desa wisata, perekonomian di desa itu berkembang dan kesejahteraan warganya meningkat.

Komentar