Penutupan dan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz mulai berdampak langsung pada sejumlah perusahaan di berbagai negara, terutama yang bergantung pada jalur energi dan logistik kawasan Timur Tengah. Di Indonesia, PT Chandra Asri Pacific Tbk menyatakan force majeure akibat terganggunya pasokan bahan baku petrokimia. Di Qatar, QatarEnergy menghentikan sementara produksi LNG sehingga mengganggu pasokan ke sejumlah negara konsumen seperti India. Sementara itu, produsen aluminium Qatalum juga menghentikan produksi dan mengumumkan force majeure karena gangguan pasokan gas dan bahan baku.

Dampak serupa juga dirasakan sektor pelayaran dan energi di negara lain. Dua raksasa pelayaran global, Maersk dan Hapag-Lloyd, menunda operasi serta membatasi rute pelayaran di kawasan tersebut, disertai kenaikan biaya asuransi akibat tingginya risiko keamanan. Di India, Petronet LNG bahkan mencatat penurunan harga saham sekitar 8% setelah mengumumkan force majeure. Ketegangan ini juga meningkatkan kekhawatiran terhadap fasilitas ekspor minyak utama seperti Ras Tanura di Arab Saudi, sementara gangguan di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi aliran 17–20 juta barel minyak per hari atau sekitar 20% pasokan minyak dunia, sekaligus jalur penting ekspor LNG Qatar.