GELOMBANG unjuk rasa besar melanda Iran sejak 28 Desember 2025 dan belum mereda hingga Minggu 11 Januari 2026. Aksi yang dipicu tekanan ekonomi ini direspons dengan pengetatan keamanan setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menuding adanya campur tangan asing. Pemerintah juga memutus akses internet hampir total, membuat informasi dari lapangan sulit diverifikasi dan memicu kekhawatiran soal meningkatnya represi terhadap pengunjuk rasa.

Di balik eskalasi aksi, krisis ekonomi menjadi akar persoalan utama. Sanksi Amerika Serikat dan sekutunya memperparah kondisi hidup masyarakat, menggerus kelas menengah dan menciptakan jutaan “kaum miskin baru”. Tingginya pengangguran terutama di kalangan muda mendorong gelombang migrasi keluar negeri. Di tengah situasi ini, sebagian pengunjuk rasa menggaungkan simbol monarki pra-1979, seiring seruan Reza Pahlavi dari luar negeri. Namun, analis menilai isu monarki lebih mencerminkan akumulasi kekecewaan publik ketimbang tuntutan nyata untuk mengembalikan sistem monarki.