INDONESIA pernah menjadi kekuatan paling dominan di SEA Games, terutama pada periode 1977 hingga 1993. Sejak pertama kali ikut serta, Indonesia langsung tampil garang dan berhasil meraih juara umum sebanyak sepuluh kali dalam rentang tersebut. Namun memasuki 1995 hingga 2009, peta persaingan berubah. Thailand dan Vietnam tumbuh menjadi rival besar, membuat perolehan emas Indonesia menurun di sejumlah cabang olahraga (cabor) kunci dan posisi akhir sering kali berada di peringkat tiga hingga lima. Kebangkitan sempat terjadi pada 2011 ketika menjadi tuan rumah, di mana Indonesia kembali menjadi juara umum, tetapi performa di edisi-edisi berikutnya kembali fluktuatif hingga 2023.
Memasuki SEA Games 2025, tantangan semakin besar seiring meningkatnya kualitas negara-negara pesaing. Indonesia mengirim 996 atlet dari 48 cabang olahraga untuk mempertahankan posisi tiga besar, dengan target realistis 80 hingga 85 emas dan potensi capaian lebih dari 120. Pemerintah dan federasi kini menekankan evaluasi berbasis data, terutama pada cabang unggulan seperti angkat besi, bulu tangkis, panahan, akuatik, atletik, taekwondo, dan judo. Dengan persiapan yang semakin terukur, Indonesia berupaya kembali memperkuat fondasi prestasinya dan membuktikan bahwa meski era keemasan telah lewat, peluang untuk kembali menjadi kekuatan utama di Asia Tenggara masih sangat terbuka.




