SEEKOR gajah Sumatra ditemukan mati pada 29 November 2025 di Meunasah Lhok, Pidie Jaya, Aceh, tertimbun lumpur dan gelondongan kayu akibat banjir. Lokasi penemuan jauh dari jalur jelajah gajah, menandakan satwa terseret arus dari hutan rusak, sekaligus menjadi bukti nyata krisis ekologis dan deforestasi yang terus mengancam habitat mereka. Populasi gajah Sumatra kini diperkirakan tidak lebih dari 1.100 ekor di 22 lanskap, dengan tren jangka panjang yang terus menurun akibat hilangnya habitat, fragmentasi hutan, konflik manusia–gajah, jerat, dan perburuan.

Krisis ini makin nyata di Tesso Nilo, di mana populasi gajah turun dari ±200 pada awal 2000-an menjadi ±150 ekor, sementara 85% kawasan telah berubah menjadi perkebunan sawit ilegal dan permukiman. Upaya konservasi, seperti program Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) di Aceh, berfokus pada rehabilitasi habitat, penyediaan pakan dan air, serta pelibatan 12 desa penyangga sebagai garda depan pemantauan.