KASUS Alvaro kembali membuka luka lama tentang rentannya keamanan anak ketika ancaman justru datang dari lingkar terdekat. Polisi memastikan bahwa pelaku penculikan adalah ayah tirinya sendiri, Alex Iskandar, yang kemudian dikabarkan bunuh diri setelah ditangkap di Polres Metro Jakarta Selatan. Jenazah Alvaro ditemukan dalam kondisi kerangka di Tenjo, Bogor, dan kini tengah menjalani pemeriksaan forensik serta tes DNA di RS Polri Kramat Jati. Kronologi menunjukkan bahwa pada 6 Maret 2025, Alvaro pamit salat Magrib di Masjid Jami’ Al Muflihun, Pesanggrahan, Jakarta Selatan sebelum dibawa pergi oleh seorang pria yang mengaku sebagai ayahnya. Setelah Magrib, Alvaro tak kunjung kembali, memicu kepanikan keluarga yang langsung memulai pencarian.
Dugaan motif sementara mengarah pada konflik rumah tangga, termasuk kemarahan pelaku terhadap ibu Alvaro yang bekerja di Malaysia. Namun, motif pasti masih didalami penyidik. Kasus ini juga menegaskan pola umum penculikan anak yang kerap berakar pada persoalan internal keluarga mulai dari dendam, perselisihan, hingga perebutan kendali. Selain itu, penculikan anak dapat dipicu eksploitasi ekonomi maupun kekerasan yang dilakukan pihak yang memanfaatkan kedekatan atau kepura-puraan identitas untuk mendapatkan kepercayaan korban. Kasus Alvaro menjadi peringatan keras bahwa perlindungan anak masih menghadapi ancaman serius, bahkan dari mereka yang seharusnya menjadi pelindung.




