LEDAKAN di SMAN 72 Jakarta Utara pada Jumat, 7 November 2025 menjadi peringatan serius akan rapuhnya keamanan di lingkungan sekolah. Dua kali dentuman keras terdengar saat salat Jumat berlangsung, menyebabkan 96 orang terluka. Polisi menduga pelaku merupakan siswa sekolah yang masih di bawah umur. Motif sementara mengarah pada dugaan perundungan, namun penyelidikan juga menelusuri kemungkinan keterpaparan konten berbahaya di internet yang mengajarkan eksperimen bahan kimia.

Peristiwa di SMAN 72 bukanlah kasus tunggal. Dalam lima tahun terakhir, ancaman serupa muncul di berbagai daerah — mulai dari ancaman bom di North Jakarta Intercultural School (NJIS) pada Oktober 2025 hingga penyitaan 96 kilogram bahan peledak di Blitar dan Tulungagung, yang sebagian pelakunya juga berstatus pelajar. Rangkaian kejadian ini memperlihatkan tren mengkhawatirkan: keterlibatan anak dalam kasus bahan peledak meningkat, dipicu lemahnya pengawasan, rasa ingin tahu berlebihan, serta paparan konten daring yang tidak terkontrol.