BANJIR seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga Semarang. Sejak akhir Oktober 2025, kota ini kembali dilanda genangan berhari-hari yang melumpuhkan sejumlah wilayah. Data BNPB mencatat sedikitnya 22.669 jiwa terdampak, 39 jiwa mengungsi, dan tiga orang meninggal dunia akibat kecelakaan air. Faktor pemicu banjir kali ini tidak hanya cuaca ekstrem, tetapi juga kegagalan sistem pompanisasi, saluran drainase yang tersumbat, serta rob dan air pasang yang memperburuk situasi di kawasan pesisir.
Namun, persoalan banjir di Semarang bukanlah cerita baru. Catatan sejarah menunjukkan, sejak masa penjajahan Belanda, wilayah ini sudah akrab dengan genangan air. Untuk mengatasinya, pemerintah kolonial membangun dua kanal besar—Banjir Kanal Barat (1850–1879) dan Banjir Kanal Timur (1890-an) guna mengalirkan air dari dataran tinggi agar tidak menggenangi pelabuhan dan pusat perdagangan. Meski sempat efektif, kanal-kanal tersebut kini tak lagi mampu menampung debit air akibat pesatnya urbanisasi dan perubahan iklim.




