BANJIR besar yang melanda Bali pada 11 September 2025 menelan sedikitnya 18 korban jiwa dan membuat 5 orang lainnya masih hilang (data per 12 September 2025). Korban terbanyak tercatat di Denpasar (12 orang), disusul Gianyar (3), Jembrana (2), dan Badung (1). Curah hujan ekstrem memicu luapan sungai dan saluran air yang tak mampu menampung debit, merendam permukiman hingga fasilitas publik.
Namun, bencana ini bukan sekadar akibat hujan deras. Bali kini menghadapi krisis tata ruang dan drainase. Alih fungsi sawah menjadi vila dan hotel membuat ruang terbuka hijau di Denpasar tersisa hanya sekitar 10%, jauh di bawah kebutuhan ideal 30%. Sistem subak yang selama berabad-abad menjaga keseimbangan air semakin tertekan pembangunan.




