Tips Atur Budget Mudik, Panduan Agar Cashflow Keluarga Tetap Sehat
MUDIK Lebaran tetap menjadi tradisi tahunan yang kuat di Indonesia. Tiap tahun menjelang Hari Raya Idul Fitri, jutaan perantau dari berbagai kota dan pulau bergerak pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga besar. Fenomena ini bukan sekadar ritual sosial, tetapi juga menciptakan gelombang mobilitas masyarakat yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk ekonomi keluarga dan perencanaan keuangan.
Jumlah pemudik nasional tahun ini diperkirakan tetap tinggi, meskipun ada tren sedikit penurunan dibanding tahun sebelumnya. Berdasarkan data potensi pergerakan masyarakat, mudik Lebaran 2025 diproyeksikan mencapai sekitar 146,5 juta orang.
Fenomena mudik juga berdampak luas terhadap konsumsi masyarakat. Masyarakat meningkatkan pengeluaran untuk tiket transportasi, akomodasi, konsumsi makanan, pakaian baru, dan oleh-oleh. Lonjakan ini memperlihatkan persiapan finansial menjelang mudik memerlukan perhatian lebih dari sekadar merencanakan perjalanan, tetapi juga menata cashflow keluarga agar tetap sehat selama dan setelah masa libur lebaran.
Kunci Agar Mudik Tidak Menguras Finansial
Menjelang mudik, banyak keluarga yang menghadapi dilema antara keinginan berlebaran bersama keluarga dan keterbatasan anggaran. Financial Educator, Aliyah Natasya menggarisbawahi budgeting merupakan langkah awal yang sangat krusial.
Menurut Aliyah, tanpa budgeting yang jelas, pengeluaran mudik rentan menjadi impulsif. Tiket dibeli terlalu mepet sehingga harganya semakin tinggi. Kebutuhan yang belum diprioritaskan sering dibeli mendadak, sehingga cashflow keluarga menjadi tidak stabil. Situasi ini bisa menimbulkan biaya tak terduga yang sebenarnya bisa diantisipasi dengan perencanaan lebih matang.
Membagi Tujuan Budgeting jadi Tiga Kategori
Aliyah menjelaskan bahwa financial planning yang efektif adalah proses menghubungkan uang yang dimiliki dengan tujuan yang ingin dicapai.
“Tujuan financial planning itu menghubungkan uang yang kita punya dengan tujuan yang ingin kita capai,” jelasnya dalam acara diskusi media yang membahas mengenai budgeting menjelang musim mudik oleh Tiket.com di Jakarta (23/2).
Ia membagi tujuan ini ke dalam tiga kategori utama:
- Jangka pendek (Short Term)
- Jangka menengah (Medium Term)
- Jangka panjang (Long Term)
Setiap tujuan memiliki prioritas dan rencana pengeluarannya masing-masing. Misalnya, kebutuhan mudik yang merupakan pengeluaran tahunan bisa dimasukkan sebagai short atau medium term goal, tergantung waktu dan jumlah dana yang telah dialokasikan dalam setahun.
“Semua itu nggak bisa didapatkan dalam satu waktu. Ada musimnya masing-masing,” ujarnya.
Dengan memiliki tujuan yang jelas dan budgeting yang terstruktur, seseorang dapat mengetahui kebutuhan mana yang benar-benar harus dipenuhi lebih dulu, dan mana yang bisa ditunda atau direncanakan lebih jauh. Ini membantu keluarga agar tidak nominal keputusan yang diambil berdasarkan emosi sesaat, tetapi didasari oleh prioritas keuangan yang realistis.
Alokasi Ideal THR 20-30-20-30
Aliyah juga membagikan pola pembagian anggaran yang dapat dijadikan panduan sederhana saat menerima Tunjangan Hari Raya (THR), yang kerap disebut sebagai gaji ekstra ke-13.
Berikut alokasi ideal yang bisa dijadikan referensi:
1. Kewajiban dan Ibadah - 20%
Digunakan untuk:
- Zakat fitrah dan infak
- Melunasi utang konsumtif
- Kewajiban sosial lainnya
Pos ini menjadi prioritas karena bersifat wajib dan rutin setiap tahun.
2. Silaturahmi dan Transportasi - 30%
Dialokasikan untuk:
- Tiket transportasi mudik
- Biaya akomodasi
- Kebutuhan perjalanan
Porsi ini cenderung lebih besar karena biaya perjalanan sering menjadi komponen terbesar dalam pengeluaran Lebaran.
3. Konsumsi dan Keluarga - 20%
Meliputi:
- Hidangan Lebaran
- Pakaian baru
- Hampers atau hadiah keluarga
Pos ini penting, namun tetap perlu dikendalikan agar tidak membengkak.
4. Tabungan & Investasi - 30%
Dialokasikan untuk:
- Dana darurat
- Biaya masa depan
- Life goals dan investasi jangka panjang
Menurut Aliyah, bagian ini sering kali terabaikan. Padahal, menyisihkan dana untuk masa depan adalah bentuk perlindungan finansial setelah momen Lebaran selesai. “Persentase ini tetap fleksibel. Kalau mudiknya jauh dan biayanya besar, tentu bisa disesuaikan. Tapi minimal harus ada pembagian yang jelas,” jelasnya.
Manajemen Cashflow yang Lebih Stabil
Prinsip sederhana yang perlu dipegang adalah, kenali posisi keuanganmu, buat budget, dan tentukan goals. Tanpa ini, banyak keluarga yang justru mengalami tekanan finansial setelah musim mudik karena pengeluaran yang tidak terencana.
“Dengan tujuan yang jelas, kamu akan lebih tahu mana pengeluaran yang prioritas dan mana yang bisa ditunda,” kata Aliyah.
Ia menekankan cashflow yang stabil bukan hanya soal berapa banyak uang yang keluar, tetapi tentang bagaimana mengatur waktu pengeluaran, membagi prioritas, serta menyiapkan dana ekstra bila diperlukan.
Perencanaan keuangan yang baik tidak menjamin semua hal berjalan sempurna, tetapi setidaknya memberikan ketenangan bahwa setiap keputusan finansial memiliki dasar dan tujuan yang jelas. Dengan begitu, tradisi mudik yang penuh makna ini tidak berubah menjadi beban finansial di kemudian hari. (Perpus DPR RI/Z-2)