Penemuan Fosil Telur Berusia 68 Juta Tahun di Antartika Ubah Pemahaman Ilmuwan


Penulis: Abi Rama - 26 March 2026, 06:46 WIB
The Daily Galaxy

PENEMUAN fosil telur berusia sekitar 68 juta tahun di Antartika menjadi salah satu temuan paling mengejutkan dalam dunia paleontologi. Fosil yang pertama kali ditemukan pada 2011 di Pulau Seymour ini sempat membingungkan para ilmuwan karena bentuknya yang tidak biasa.

Selama bertahun-tahun, objek tersebut sulit diklasifikasikan. Berbeda dengan telur fosil pada umumnya yang bercangkang keras, struktur fosil ini justru menyerupai lapisan tipis seperti kertas. 

Baru hampir satu dekade kemudian, melalui analisis mendalam, para peneliti memastikan bahwa fosil tersebut merupakan telur bercangkang lunak terbesar yang pernah ditemukan.

Penelitian yang dipimpin oleh Lucas Legendre bersama timnya, termasuk Julia Clarke, dipublikasikan dalam jurnal Nature pada 17 Juni 2020. Fosil ini kemudian diberi nama Antarcticoolithus bradyi dan dijuluki “The Thing”.

Diduga Milik Predator Laut Raksasa

Telur purba ini memiliki panjang hampir 30 sentimeter, ukuran yang sangat besar untuk telur bercangkang lunak. Temuan ini menantang anggapan lama bahwa reptil laut raksasa hanya berkembang biak dengan cara melahirkan.

Para peneliti menduga telur tersebut berasal dari mosasaurus, predator laut besar yang hidup pada masa akhir zaman dinosaurus. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya fosil Kaikaifilu hervei di lokasi yang tidak jauh dari penemuan telur.

Analisis tambahan yang membandingkan ratusan spesies reptil modern menunjukkan bahwa induk telur ini kemungkinan memiliki panjang tubuh lebih dari 7 meter, ukuran yang sesuai dengan mosasaurus. Meski begitu, bukti langsung yang mengaitkan telur dengan spesies tertentu masih belum ditemukan.

Selama puluhan tahun, ilmuwan percaya bahwa telur bercangkang keras merupakan bentuk awal dalam evolusi dinosaurus dan reptil besar. Namun, penemuan telur bercangkang lunak dalam jumlah yang semakin banyak mulai menggoyahkan teori tersebut.

Paleobiolog Darla Zelenitsky menyebut temuan dari Antartika ini sebagai sesuatu yang “sangat luar biasa” karena mampu mengubah pemahaman tentang evolusi reptil. 

Penemuan serupa pada spesies seperti Protoceratops dan Mussaurus semakin memperkuat dugaan bahwa telur lunak mungkin muncul lebih dahulu, sebelum kemudian berevolusi menjadi cangkang keras.

Antartika Jadi Kunci Pelestarian Fosil Langka

Keberhasilan fosil ini bertahan hingga jutaan tahun juga menjadi hal yang menarik perhatian. Biasanya, jaringan lunak akan membusuk sebelum sempat menjadi fosil. Namun, kondisi lingkungan dan sedimen di Antartika memungkinkan struktur rapuh tersebut tetap terawetkan.

Temuan ini menambah bukti bahwa wilayah Antartika memiliki potensi besar dalam menyimpan jejak kehidupan purba yang jarang ditemukan di tempat lain. Para peneliti pun mulai mempertimbangkan kembali lokasi pencarian fosil, terutama di daerah dengan kondisi ekstrem seperti wilayah beku.

Mengubah Cara Pandang Ilmuwan

Fosil telur ini sempat tersimpan selama hampir satu dekade sebelum akhirnya dipahami. Kini, pengklasifikasian ulangnya terus memberikan dampak luas dalam dunia ilmiah.

Penemuan ini tidak hanya mengungkap misteri lama, tetapi juga membuka perspektif baru tentang bagaimana reptil laut purba berkembang biak. Bagi para ilmuwan, telur dari Antartika ini menjadi bukti bahwa masih banyak hal yang belum diketahui tentang kehidupan di masa lalu. (Futura/Z-1)