Momen Marty Natalegawa Penuhi Undangan Presiden Prabowo dengan Mercedes-Benz Tiger Klasik


Penulis: Kautsar Widya Prabowo  - 04 February 2026, 16:16 WIB
Dok. Medcom

PEMANDANGAN unik menghiasi Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu, 4 Februari 2026. Mantan Menteri Luar Negeri RI periode 2009–2014, Marty Natalegawa, hadir memenuhi undangan Presiden Prabowo Subianto dengan gaya yang tidak biasa. Di tengah deretan mobil dinas modern, Marty justru tampil percaya diri mengendarai kendaraan legendaris.

Gaya Klasik di Tengah Modernitas Istana

Marty tiba di Istana Negara menggunakan mobil klasik Mercedes-Benz Tiger tahun 1980 berwarna cokelat. Mobil klasik tersebut tampak mencolok dan segera menjadi pusat perhatian awak media yang meliput di lingkungan Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat. Pilihan kendaraan ini seolah mencerminkan sisi personal Marty yang menghargai nilai historis di tengah hiruk-pikuk politik formal.

Saat ditemui awak media, Marty mengaku kedatangannya semata-mata untuk memenuhi undangan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. "Saya tidak tahu sama seperti Anda. Saya hanya memenuhi undangan," ujar Marty singkat sebelum memasuki gedung utama.

Menilik Agenda Pertemuan dan Isu Board of Peace (BoP)

Kedatangan Marty ke Istana memicu spekulasi terkait posisi strategis Indonesia di kancah internasional. Salah satu isu hangat yang mencuat adalah potensi bergabungnya Indonesia ke dalam Board of Peace (BoP). Marty mengakui bahwa dirinya telah mencermati perkembangan isu tersebut secara mendalam.

Mantan diplomat senior ini menegaskan bahwa ia memiliki pandangan pribadi terkait BoP. Namun, ia memilih untuk tetap objektif dan mendengarkan penjelasan resmi dari pihak pemerintah terlebih dahulu.

“Saya ada pandangan sendiri, tapi saya ingin mendengar dulu penjelasan dan pandangan yang akan disampaikan nanti,” kata Marty menjelaskan sikapnya terkait isu Board of Peace.

Respons Marty Terkait Undangan Presiden

Meskipun memiliki perspektif pribadi yang kuat, Marty memilih untuk mendengarkan pemaparan di dalam pertemuan sebelum menyampaikannya ke publik. Langkah ini dinilai sebagai bentuk profesionalisme seorang diplomat senior dalam merespons isu-isu sensitif kenegaraan.

“Saya ada pandangan sendiri, tapi saya ingin mendengar lagi pandangan dan penjelasan nanti di dalam,” tambahnya sebelum memasuki gedung Istana Kepresidenan.

Pertemuan ini diprediksi akan membahas penguatan peran Indonesia dalam perdamaian dunia, mengingat rekam jejak Marty Natalegawa yang sangat berpengaruh dalam diplomasi multilateral selama menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. (H-3)