Ketakutan Global, Paskah, dan Harapan
UMAT Kristen sejagat merayakan Paskah di tengah kecemasan dan ketakutan yang menimpa masyarakat global. Ada empat alasan utama mengapa umat manusia hidup dalam ketakutan kolektif. Pertama, konflik internasional seperti perang Rusia-Ukraina dan Amerika Serikat (AS)-Iran menunjukkan berakhirnya ilusi perdamaian. Dunia sedang beranjak menuju logika kekerasan dan kekuatan militer.
Kedua, krisis iklim. Eksploitasi alam telah mengantar umat manusia menuju titik balik ekologis yang destruktif. Alam tidak dapat dipandang hanya sebagai lingkungan yang boleh dieksploitasi.
Ketiga, kita juga sedang menghadapi gelombang migrasi global. Kemiskinan, peperangan, dan kekacauan iklim telah memaksa umat manusia dalam jumlah besar meninggalkan kampung halaman mereka dan berpindah ke tempat lain. Migrasi global telah dieksploitasi para pemimpin populis dengan politik ketakutan terhadap orang asing dan bahaya Islam.
Keempat, revolusi digital dan kecerdasan buatan. Perkembangan teknologi digital memiliki dampak signifikan pada dunia kerja, politik, dan komunikasi. Tatanan sosial mengalami serbuan disinformasi, manipulasi media sosial, dan raibnya demarkasi epistemologis antara kebenaran dan kebohongan.
PASKAH
Dalam kondisi ketakutan kolektif di atas, Paskah tidak lagi dipandang hanya sebagai perayaan internal orang Kristen, tapi juga memiliki relevansi bagi seluruh umat manusia.
Di tengah dunia yang sedang dihantui ketakutan kolektif, perayaan Paskah memberikan pesan harapan. Kebangkitan Kristus tidak saja mengungkapkan peristiwa iman, tapi juga menampilkan sebuah perubahan eksistensial. Allah dalam diri Yesus menunjukkan jalan dari ketakutan menuju kepercayaan. Para murid beralih dari ruang persembunyian karena takut menuju sebuah kominitas dengan sebuah harapan baru.
HARAPAN
Paskah menghadirkan harapan. Harapan ialah sebuah keyakinan tentang sebuah masa depan bersama di manusia saling percaya satu sama lain di tengah dunia yang diwarnai kerentanan kolektif.
Harapan yang lahir dari pengalaman Paskah bukan sebuah ilusi. Ia tidak menutup mata terhadap konflik, ketimpangan sosial, dan ketidakadilan. Pengalaman Paskah melahirkan keberanian moral untuk menjalin dialog, merawat martabat manusia, dan menolak segala bentuk legitimasi religius atas kekerasaan dan kekuasaan.
Di tengah dunia yang diwarnai ketakutan kolektif, merayakan Paskah berarti menempuh lorong kepercayaan. Dunia tidak pernah bebas dan luput dari krisis. Namun, di tengah tantangan itu, Paskah menolak politik kecemasan dan menata solidaritas sebagai basis kehidupan bersama.
INDONESIA
Ketakutan kolektif pada tingkat global terbaca juga dalam tatanan sosial masyarakat Indonesia. Polarisasi politik yang tak terjembatani, teror terhadap aktivis hak asasi manusia dan pegiat media, serta peminggiran masyarakat lokal dalam proyek pembangunan nasional ialah sejumlah ilustrasi tentang penghancuran demokrasi karena rasa takut.
Pengalaman Paskah memberikan inspirasi bahwa kemenangan tidak lahir dari kekuasaan dan kekerasan. Kemenangan bertumbuh dari sebuah keberanian untuk menaklukkan rasa takut belas kasih, bela rasa, dan rekonsiliasi.