Isra Mikraj Menjawab Krisis Konten Media Sosial


Penulis: Muhammad Shalehuddin Al’Ayubi Wakil Sekretaris DKM Baitut Tholibin Kemendikdasmen, Wakil Ketua Asosiasi Pengembang Teknologi Pembelajaran Jabodetabek, PTP Ahli Muda Kemendikdasmen - 20 January 2026, 05:10 WIB
Dok. Pribadi

ISRA Mikraj merupakan salah satu momentum paling penting dalam sejarah Islam. Pada peristiwa itulah Allah SWT memberikan perintah langsung kepada Nabi Muhammad SAW untuk menunaikan salat lima waktu. Namun, makna Isra Mikraj tidak berhenti pada kewajiban ibadah salat. Dalam peristiwa itu, Rasulullah SAW diperkenankan menyaksikan berbagai tanda kebesaran ciptaan Allah SWT yang tidak dapat disaksikan manusia pada umumnya. Pengalaman spiritual itu menjadi bekal penting bagi Rasulullah dalam menjalankan risalah kenabian di tengah tantangan sosial yang berat.

Tantangan sosial selalu ada di sepanjang zaman. Saat ini, salah satu tantangan itu hadir dalam bentuk paparan konten negatif yang berseliweran di jagat media sosial. Dia masuk ke gadget yang dipegang anak-anak. Seolah beradu kuat dengan konten-konten positif yang telah dibuat para guru dan pemerhati pendidikan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) telah memblokir sekitar 11 juta konten negatif di internet sejak 2016 hingga November 2025, dengan mayoritas berupa konten pornografi, perjudian, SARA/kebencian, dan hoaks. Platform yang banyak diblokir antara lain X, Instagram, Facebook, dan Google. Dalam periode Oktober 2024-Maret 2025 saja, lebih dari 1,35 juta konten negatif ditangani melalui pelaporan masyarakat.

 

LALU APA KETERKAITANNYA DENGAN ISRA MIKRAJ?

Jika ditelaah lebih dalam, Isra Mikraj mengandung tiga pesan utama yang sangat relevan dengan tantangan kehidupan manusia, termasuk konteks pendidikan. Pertama, Isra melambangkan dimensi horizontal kehidupan manusia, yaitu hubungan sosial atau hablumminannas. Manusia pada hakikatnya ialah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Oleh karenanya, ia akan selalu terikat dengan lingkungan tempat ia berada. Dimensi Isra dapat dibaca sebagai pesan bahwa kualitas hidup sangat dipengaruhi kualitas keterhubungan sosial: keluarga, teman sebaya, guru, komunitas, dan budaya sekolah. Sejalan dengan itu, pakar kesehatan masyarakat modern menegaskan bahwa 'social connection is a fundamental human need' (koneksi sosial ialah kebutuhan dasar manusia). Bahkan, Julianne Holt-Lunstad merangkum temuan lintas disiplin dengan menegaskan manusia 'fundamentally a social species' (pada dasarnya ialah spesies sosial) sehingga relasi yang sehat dapat membentuk cara kita berpikir, merasa, dan berperilaku (Lunstad: 2023). Dalam pandangan Islam kontemporer, M Quraish Shihab menegaskan 'manusia secara fitri adalah makhluk sosial' dan hidup bermasyarakat merupakan keniscayaan, sebagaimana spirit ta‘ruuf (saling mengenal) dalam QS Al-Hujurat: 13.

'Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah maha mengetahui, mahateliti'.

Dengan demikian, dalam konteks pendidikan, pesan Isra menuntun kita untuk merancang lingkungan belajar yang menguatkan hablumminannas: budaya saling menghargai, rasa memiliki, kolaborasi dalam kebaikan, dan komunikasi yang sehat agar murid tidak sekadar 'pintar sendiri', tetapi juga bertumbuh sebagai pribadi yang mampu hidup bersama dan memberi manfaat, saling menjaga dari segala tantangan buruk yang dihadapi.

Kedua, Mikraj melambangkan dimensi vertikal kehidupan manusia, yakni hubungan spiritual dengan Allah SWT atau hablumminallah. Manusia tidak hanya dituntut baik secara sosial, tetapi juga memiliki keseimbangan spiritual melalui ibadah dan penghambaan kepada Allah. Dimensi Mikraj menegaskan bahwa manusia ialah hamba Allah sekaligus individu yang memiliki potensi untuk berkembang, menata dirinya agar segala tindak tanduknya dalam kehidupan selalu terjaga atas norma atau nilai yang ada dalam wahyu.

Ibnu Katsir ketika menafsirkan perintah salat dalam rangkaian peristiwa Isra Mikraj menegaskan salat adalah silah bainal abdi wa rabbih (penghubung antara hamba dan Tuhannya), ibadah yang secara langsung menjaga kesadaran spiritual manusia agar senantiasa berada dalam koridor ketaatan dan penghambaan kepada Allah SWT. Senada dengan itu, Imam al-Qurtubi menjelaskan pengangkatan Rasulullah SAW dalam peristiwa Mikraj mengandung isyarat bahwa kemuliaan manusia terletak pada ubudiyyah-nya, semakin kuat hubungan seorang hamba dengan Allah, semakin lurus pula perilaku dan orientasi hidupnya. Semakin lurus orientasi hidupnya, semakin kuat juga ia menghadapi tantangan zamannya.

Ketiga, keteladanan Rasulullah SAW sebagai pribadi yang utuh mampu menjaga keseimbangan antara kedalaman spiritual (hablumminallah) dan kecakapan sosial (hablumminannas) menjadi semakin relevan di tengah tantangan sosial kontemporer, khususnya derasnya arus informasi dan paparan konten negatif di ruang digital. Realitas itu menuntut manusia, terutama generasi muda, tidak hanya harus cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki ketangguhan karakter, kejernihan nurani, dan daya seleksi moral agar tidak mudah terpengaruh oleh nilai-nilai yang menyimpang. Tanpa fondasi spiritual yang kuat dan kemampuan bersosialisasi yang sehat, paparan konten negatif berpotensi membentuk perilaku individualistis, agresif, bahkan mereduksi kepekaan sosial.

Oleh karena itu, nilai keseimbangan yang dicontohkan Rasulullah SAW perlu diinternalisasikan melalui pendidikan karakter yang terencana dan berkelanjutan. Pendidikan berperan sebagai benteng sekaligus filter, membekali murid dengan kemampuan berpikir kritis, pengendalian diri, dan etika bermedia sehingga mereka mampu menghadapi tantangan sosial modern secara arif. Pada titik itulah, kebijakan penguatan pendidikan karakter menemukan relevansi strategisnya, yakni membangun generasi yang tidak hanya cerdas menghadapi arus informasi, tetapi juga kukuh secara moral dan spiritual dalam menyikapi berbagai bentuk konten negatif yang berkembang di lingkungan sosial mereka.

Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Isra ayat 1, 'Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'.

Para mufasir menegaskan surah Al-Isra diawali dengan tasbih sebagai penanda suasana spiritual yang sangat halus dan agung. Nuansa itu selaras dengan peristiwa Isra Mikraj sebagai sarana komunikasi paling intim antara seorang hamba dengan Tuhannya. Pengalaman-pengalaman yang disaksikan Rasulullah SAW dalam perjalanan itu baik secara fisik maupun spiritual menjadi sumber keteguhan hati, kesabaran, dan keyakinan dalam menghadapi penolakan serta tantangan dari kaumnya.

Dengan demikian, peristiwa Isra Mikraj tidak hanya menyimpan makna teologis dan spiritual, tetapi juga menghadirkan kerangka nilai yang relevan untuk menjawab tantangan sosial kontemporer. Tantangan sosial sebesar apa pun, termasuk derasnya paparan konten negatif yang bertebaran di ruang-ruang digital, bahkan ketika jumlahnya tampak lebih dominan jika dibandingkan dengan konten positif, pada hakikatnya akan kehilangan pengaruhnya apabila nilai-nilai inti Isra Mikraj terinternalisasi secara kukuh dalam diri murid. Kekuatan hablumminallah yang menumbuhkan kesadaran spiritual, hablumminannas yang membentuk kepekaan sosial, serta kemampuan mengintegrasikan keduanya sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW akan melahirkan pribadi yang memiliki daya saring moral dan keteguhan karakter.

Internalisasi nilai tersebut hanya mungkin terwujud melalui proses pembiasaan dan penguatan karakter yang berkelanjutan di lingkungan sekolah. Pendidikan tidak cukup berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi harus membangun ekosistem yang selaras dan saling menguatkan, mulai perhatian sekolah, praktik pembelajaran di kelas, keteladanan para guru, hingga budaya sekolah yang kondusif. Ketika ekosistem pendidikan bergerak dalam visi yang sama, nilai-nilai moral akan tumbuh secara alami dan terinternalisasi dalam dimensi profil murid. Dengan demikian, konten negatif, sekuat apa pun arusnya, pada akhirnya akan terpinggirkan dan ditinggalkan dengan sendirinya.