Ribuan Pemuda GMIT Meriahkan Prosesi Galilea di Kupang
KEHANGATAN toleransi mewarnai Prosesi Galilea yang digelar Pemuda Sinode GMIT di Pantai Lai-Lai Besi Kopan (LLBK), Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu (5/4).
Ribuan peserta memenuhi lokasi acara di pantai LLBK, sementara sekitar 50 perahu ikut berlayar, dari pantai Lasiana Kuping Kupang sebagai titik start prosesi, membawa simbol kebangkitan dan perjalanan iman.
Prosesi Galilea merupakan bagian dari rangkaian perayaan Paskah yang merefleksikan kisah perjumpaan Yesus Kristus dengan murid-murid-Nya di Danau Galilea setelah kebangkitan-Nya.
Dalam peristiwa ini, Yesus menampakkan diri kepada para murid seperti Simon Petrus, Yohanes, dan Andreas, sebagai tanda penguatan iman serta panggilan untuk kembali pada kasih mula-mula dan memberitakan kabar keselamatan kepada dunia.
Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT, Pdt. Zimrat M.S. Karmany, M.Th, menjelaskan prosesi tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan memiliki nilai spiritual yang mendalam.
“Ini adalah undangan untuk kembali ke Galilea, tempat Yesus pertama kali membangkitkan dan memanggil murid-murid-Nya. Kita diajak untuk memaknai bahwa Kristus bangkit bagi kita semua dan menghidupi kasih kepada sesama,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur serta aparat keamanan yang telah memastikan kegiatan berlangsung aman dan lancar.
Ketua Panitia Paskah Pemuda GMIT 2026, Simson Polin mengatakan prosesi ini menjadi sarana mempererat kebersamaan lintas jemaat dan lintas agama. “Kami berterima kasih kepada semua yang ikut berjalan dari Lasiana hingga LLBK. Ini menjadi bukti nyata bahwa semangat toleransi di NTT terus terjaga,” katanya.
Selain sebagai perayaan iman, prosesi Galilea juga menjadi ruang refleksi bagi umat untuk mengingat kembali makna kebangkitan Yesus Kristus serta memperkuat persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Ketua Pemuda Sinode GMIT, Erens Blegur, mengatakan bahwa kegiatan ini akan terus dikembangkan menjadi Festival Paskah berskala lebih besar yang melibatkan berbagai klasis dan kegiatan lainnya, termasuk pameran foto, lukisan, dan berbagai lomba edukatif untuk anak-anak dan pemuda.
Sebagai penutup rangkaian, panitia mengundang masyarakat untuk mengikuti pawai kemenangan Paskah yang akan digelar pada Senin (6/4), dari Bundaran Tirosa menuju pusat Kota Kupang.
Sementara itu, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma mengatakan kegiatan ini juga menunjukkan semangat kebersamaan dan toleransi yang luar biasa, menjadi bagian dari identitas Nusa Tenggara Timur sebagai “Nusa Terindah Toleransi.”
Johni Asadoma juga menyampaikan apresiasi kepada semua pihak, termasuk umat Muslim yang turut terlibat dalam kegiatan ini, menegaskan kolaborasi lintas agama.
Prosesi Galilea juga berpotensi menjadi wisata religi baru yang berkelanjutan. Wakil Gubernur berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi identitas warga GMIT di NTT, serupa dengan prosesi Semana Santa di Larantuka yang telah berlangsung lebih dari 400 tahun dan menjadi destinasi wisata nasional maupun internasional.
Lebih jauh, Johni Asadoma menekankan dampak positif prosesi terhadap ekonomi lokal.
Kegiatan ini memacu aktivitas UMKM, meningkatkan roda ekonomi masyarakat, dan memberikan manfaat nyata bagi warga setempat. Ia juga menekankan pentingnya pola hidup hemat dan ketahanan pangan, seperti menanam di lahan kosong, memelihara ternak, dan mengelola hasil panen lokal, sebagai upaya mendukung ketahanan pangan NTT dan nasional.
Wakil Gubernur juga mengapresiasi kerja keras panitia yang menyelenggarakan acara besar ini, menekankan pentingnya koordinasi, kepemimpinan, dan kerjasama yang baik. Ia menutup sambutannya dengan mengajak seluruh peserta membawa semangat prosesi Galilea dalam kehidupan sehari-hari, untuk memajukan daerah, bangsa, dan negara.
“Selamat Paskah untuk kita semua. Semoga semangat kebersamaan dan toleransi terus terjaga,” ujarnya. (H-2)