Salat Idulfitri di Balai Kota Bandung Jadi Ajang Silaturahmi dan Refleksi Sosial Warga


Penulis: Naviandri - 21 March 2026, 16:48 WIB
Dok. Diskominfo Kota Bandung

RIBUAN warga memadati Plaza Balai Kota Bandung untuk melaksanakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah yang berlangsung khidmat pada Sabtu (21/3). Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat, termasuk mereka yang merantau dan kembali ke Kota Bandung untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Pemerintah Kota Bandung, unsur Forkopimda, pimpinan BUMD, serta tokoh masyarakat. Salat Id dipimpin oleh khatib Ahmad Farizi.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan rasa syukur atas kesempatan berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan. Ia menekankan bahwa Idulfitri bukan sekadar kemenangan spiritual, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat hubungan antarwarga.

“Saya juga mengajak masyarakat untuk saling memaafkan dan menjaga hati dari hal-hal negatif. Idulfitri adalah momen untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan, dan memperkuat persaudaraan,” tuturnya.

Di momentum Idulfitri, Farhan juga mengingatkan pentingnya kepedulian sosial, terutama di tengah masih adanya ketimpangan ekonomi di Kota Bandung. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya merayakan kemenangan setelah Ramadan, tetapi juga merefleksikan kondisi sosial di sekitar.

“Hingga saat ini masih terdapat sekitar 100 ribu warga Kota Bandung yang hidup dalam kondisi miskin dan miskin ekstrem. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Saya melihat langsung kondisi warga yang sangat memprihatinkan. Tidak cukup hanya dengan bantuan, tetapi mereka membutuhkan kesempatan untuk hidup lebih baik,” ungkapnya.

Farhan menambahkan bahwa sekitar 7,4 persen angkatan kerja produktif di Kota Bandung masih belum mendapatkan pekerjaan. Tingkat ketimpangan ekonomi yang tercermin dari gini rasio mencapai angka 0,42, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Persoalan ini tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, termasuk masyarakat.

“Dalam konteks ini saya menekankan pentingnya peran zakat, infak, dan sedekah sebagai instrumen pemerataan ekonomi. Zakat bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi juga solusi sosial agar kekayaan tidak hanya berputar di kelompok tertentu,” tandasnya.

Farhan pun mengajak masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai titik awal untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial, sehingga kesejahteraan dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh warga Kota Bandung. (AN/I-1)