12.994 Penyintas Banjir Jalani Puasa di Pengungsian, Perantau asal Aceh Bantu Sumur Bor dan Persiapan Lebaran


Penulis:  Amiruddin Abdullah Reubee - 10 March 2026, 05:42 WIB
MI/Amirruddin Abdullah Reubee

WARGA korban banjir di kawasan Provinsi Aceh hingga kini masih harus menjalani hari-hari yang berat. Memasuki bulan ketiga pascabencana, sedikitnya 12.994 penyintas terpaksa menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H di dalam tenda pengungsian dalam kondisi memprihatinkan.

Para pengungsi harus bergelut dengan udara dingin malam hari dan serangan nyamuk. Kelangkaan panganan layak untuk berbuka puasa, krisis fasilitas tempat tidur, hingga persiapan sahur dalam keadaan darurat menjadi pemandangan sehari-hari. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya mata pencaharian warga akibat sawah yang tertimbun lumpur tebal dan kebun yang tergerus air bah.

Bantuan Paket Lebaran dari Perantau Aceh di Jakarta 

Guna mengurangi beban kesulitan tersebut, sejumlah perantau Aceh di Jakarta yang dikoordinir oleh pengusaha tenda, Haji Nazaruddin, menyalurkan ratusan paket lebaran kepada korban banjir di tanah kelahiran mereka. Bantuan yang disalurkan terdiri dari kain sarung, tikar tempat duduk, hingga kelambu.

Salah satu lokasi utama penyaluran bantuan adalah Desa Lubuk Sidup (Neubok Sidop), Kecamatan Sekrak, Kabupaten Aceh Tamiang. Desa pedalaman ini merupakan wilayah paling parah yang diterjang banjir besar pada 24-27 November 2025 lalu, di mana hampir seluruh rumah warga hanyut terbawa arus.

Nazaruddin, perantau asal Leupeuem, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, mengatakan bahwa sumbangan tersebut dikumpulkan secara patungan dari para perantau Aceh dan donasi rekan-rekan mereka di Pulau Jawa.

"Meskipun merantau nun jauh di negeri orang, namun tidak memalingkan dari apa yang dirasakan penyintas banjir di kampung halaman. Insya Allah kami akan selalu berbagi agar mereka segera bangkit kembali," tutur Nazaruddin kepada Media Indonesia, Senin (9/3).

Fokus pada Air Bersih dan Kebutuhan Ibadah

Penyaluran bantuan kali ini merupakan gelombang ketiga. Sebelumnya, kelompok perantau tersebut telah menyalurkan bantuan berupa 8 unit sumur bor ukuran besar dan sedang untuk mengatasi krisis air bersih.

Fasilitas air bersih tersebut dialokasikan untuk Pesantren Putri Mudi Mesra Samalanga di Kabupaten Bireuen, serta beberapa titik di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Selain kepada keluarga penyintas, bantuan juga menyasar fasilitas ibadah masjid dan pesantren di sekitar lokasi bencana.

Nazaruddin berharap bantuan kain sarung yang diberikan dapat digunakan sebagai selimut pengusir dingin atau pakaian untuk Salat Idulfitri mendatang. Sementara tikar dan kelambu diharapkan bisa memberikan sedikit kenyamanan bagi warga yang masih bertahan di pengungsian. (MR/E-4)

Catatan Redaksi: Data mencatat banjir besar di akhir tahun 2025 telah menghancurkan infrastruktur ekonomi warga di Aceh Tamiang, menyebabkan ribuan warga kehilangan tempat tinggal secara permanen.