Pasar Imlek Semawis Semarang Dibuka dalam Nuansa Toleransi dan Akulturasi budaya


Penulis:  Akhmad Safuan - 14 February 2026, 10:53 WIB
MI/Akhmad Safuan

PASAR Imlek Semawis mulai dibuka di komplek Pecinan, Kita Semarang Jumat (14/2) malam, ribuan warga padati ruas jalan dan gak Gambiran yang menggelar berbagai atraksi hiburan dan aneka barang di ratusan stan UMKM.

Suara musik hingar-bingar mengiringi atraksi dan tarian Barongsai (Leong) terdengar hingga radius 500 meter, sesekali juga terdengar tepuk tangan meriah ketika atraksi hiburan itu menujau ribuan penonton yang memadati sepanjang Gang Gambiran, Komplek Pecinan, Kita Semara Jumat (13/2) malam 

Ratusan kios tertata rapi sepanjang jalan tersebut menjadi sasaran ribuan pengunjung untuk membeli aneka kuliner, kebutuhan sehari-hari hingga pernak-pernik Imlek dalam pembukaan Pasar Imlek Semawis yang dihadiri juga okeh Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.

Tidak hanya itu, ratusan orang duduk di kursi menghadapi sebuah meja panjang dengan aneka kuliner diatasnya  (Tradisi Tuk Panjang) tepat di depan panggung utama menjadi titik perhatian malam itu. "Malam ini Kota Semarang benar-benar meriah," ujar Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.

Keneruahan di seputar kawasan  sejarah di Kota Semarang ini, ungkap Agustina Wilujeng Pramestuti, kateba ada agenda besarvyabf datang secara bersamaan dengan dikunjuhgi ribyanbirang dajam waktu bersamaan, yakni di  Komplek Pecinan Semarang digelar Pasar Imlek Semawis dan di sebelahuanta ada Dugderan.

Pasar Semawis ini, menurut Agustina Wilujeng Pramestuti, kembali digelar untuk menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Kota Semarang dan Dugderan yang berlangsung secara bersamaan ini menjadi bukti kuatnya toleransi dan akulturasi budaya di Kota Semarang, sehingga tercipta sebuah harmoni yang luar biasa.

Suasana damai dan toleransi di Semarang, lanjut Agustina Wilujeng Pramestuti, tercermin dari berbagai perayaan keagamaan yang berlangsung beriringan, Umat Tionghoa merayakan Imlek, umat Muslim bersiap menyambut Ramadan, sementara umat Kristiani memasuki masa prapaskah.

"Saudara-saudara Tionghoa merayakan Imlek, saudara Muslim menyambut Ramadan, umat Kristiani memasuki masa prapaskah. Katolik dan Muslim puasa bareng, inilah Kota Semarang yang damai dan toleran," tambahnya.

Ketua Komunitas Pecinan untuk Pariwisata (KOPI) Semawis, yang menaungi Pasar Semawis/Pasar Imlek Semawis di Semarang  Harjanto Halim mengungkapkan rangkaian kegiatan Imlek sudah dimulai sejak beberapa hari lalu, hingga pada makam ini memasuki tradisi Tuk Panjang bersamaan dibukanya pasar Imlek Semawis di kompleks Pecinan Semarang.

Konsep tuk panjang atau meja panjang, ungkap Harjanto Halim, biasanya digelar di dalam rumah, sesuai tradisi Tionghoa  malam sebelum Imlek menjadi momen terpenting untuk berkumpul bersama keluarga dan seluruhnya duduk dalam satu meja panjang  menyantap hidangan bersama sebagai simbol eratnya kekerabatan dan kekeluargaan.

Di Semarang, demikian Harjanto Halim, tradisi Tuk Panjang dikembangkan menjadi perjamuan terbuka di ruang publik, dalam Imlek ini hidangan yang disajikan dengan menghadirkan menu khas muslim Tionghoa dari Xinjiang, Tiongkok dengan mendatangkan chef langsung  dari Xinjiang. "Total ada 6 menu yang dihidangkan untuk para tamu," imbuhnya. (H-2)