Tragedi Siswa SD Bunuh Diri di Ngada Alarm Gagalnya Jaring Pengaman Sosial
GUBERNUR Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena buka suara terkait siswa sekolah dasar yang bunuh diri di Kabupaten Ngada.
Ia menekankan tragedi ini menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk memperkuat jaring pengaman sosial (social safety net) agar kejadian serupa dapat terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Menurutnya, meski berbagai program sosial telah berjalan, masih terdapat celah besar yang membuat kelompok rentan luput dari perhatian.
"Yang perlu kita benahi adalah sistem pengaman sosial, supaya kasus-kasus seperti ini bisa terdeteksi lebih awal dan segera dibantu,” katanya.
Ia juga menyoroti perlunya mekanisme respons cepat di luar prosedur birokrasi yang berbelit, termasuk kemungkinan pembentukan dana sosial darurat yang bisa langsung dieksekusi saat kondisi genting.
Selain itu, Gubernur menekankan pentingnya pendataan kependudukan yang akurat hingga ke tingkat desa. Ia menilai lemahnya administrasi kependudukan menjadi salah satu penyebab keluarga korban tidak mendapatkan bantuan pemerintah.
“Perpindahan dari Ngada ke Jerebuu (kecamatan di Ngada) itu administrasinya belum beres. Akibatnya, mereka tidak terdata dan tidak mendapat bantuan. Ini tidak boleh terulang,” ujarnya.
Seperti diketahui, anak tersebut bersama orangtuanya sebelumnya berdomisili di Kabupaten Nagekeo. Mereka jemudian berpindah dan menetap di wilayah Kecamatan Jerebuu, Ngada.
Melkiades pun menginstruksikan seluruh kepala daerah, camat, lurah, kepala desa, RT/RW, hingga tokoh agama, adat, perempuan, dan sosial untuk aktif mendeteksi warga yang masih hidup dalam kemiskinan atau mengalami persoalan serius.
“Jangan tunggu diskusi lagi. Kalau ada yang miskin, susah, atau bermasalah, harus ditemukan dan dibantu. Jangan sampai anak-anak kita lagi-lagi jadi korban,” tandasnya. (PO/E-4)